“Idul Fitri”, Puisi Sufistik Raja Penyair Modern

Sutardji Calzoum Bachri

Idul Fitri adalah salah satu judul puisi karya Sutardji Calzoem Bachri, raja penyair modern*). Adalah puisi sufistik yang sangat menggugah hati.

Saya pernah menggelar acara seminar bedah puisi ini tahun 2006 di Riau, provinsi kelahiran Sutardji. Bahan rujukannya dari tesis berjudul “Dimensi Sufistik Puisi-Puisi Sutardji Calzoum Bachri”, karya Muhammad Sulaiman, S.S., M.Hum (Ketua Jurusan Sastra Universitas Panca Sakti – Tegal).

Jika anda bukan peminat sastra, kini saatnya membuka pintu baru! Anda akan melihat jutaan penikmat sastra sedang asyik menyantapnya. Langkahkan kaki anda ke sana, andapun akan menjadi bagian dari mereka yang dapat menikmatinya. Anda akan menemukan sensasi baru yang belum pernah anda rasakan sebelumnya.

Puisi karya sang raja penyair modern ini tentu saja daya magisnya jauh lebih dahsyat dibanding puisi-puisi kaki lima. Menakjubkan…. Sekaligus mengharukan! Membuat para pendamba surga menjadi iri dibuatnya.

Semoga anda dapat merasakan sepoci pekat kenikmatan puisi Idul Fitri ini. Bacalah perlahan, hayati dengan seksama untuk merengkuh faedah optimal. Hadirkan jiwa anda… dan mulailah menyimak puisi sufistik berikut:

IDUL FITRI

Lihat
Pedang taubat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa Ramadhanku
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntai wirid tiap malam dan siang
telah kuhamparkan sajadahku
yang tak hanya nuju Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam Qadar aku pun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang :
Tardji, rindu yang kau wudhukkan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janjiNya
Bagi yang merindu insya-Allah kan ada mustajab cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat
Semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut
di jalan lurus
Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir
tempat usai lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu
di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir
tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
kukenakan zirah la ilaha illallah
aku pakai sepatu siratul mustaqiem
akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
dan kurayakan kelahiran kembali
di sana

Sutardji Calzoum Bachri, 1987

Selanjutnya, saya memberikan sedikit ulasan pada tiap baitnya. Semoga ini akan menambah hunjaman untuk kalbu kita. Andapun tentu dapat memberikan ulasan, komentar atau apresiasi terhadap puisi sufistik ini dengan kacamata anda sendiri. Silakan menyimak ulasan saya, dan berikan komentar anda…

IDULFITRI

Lihat
Pedang taubat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa Ramadhanku
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntai wirid tiap malam dan siang
telah kuhamparkan sajadahku
yang tak hanya nuju Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam Qadar aku pun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

  • Sebuah pertaubatan mendalam karena merasa telah menyia-nyiakan hidup. Terwujud dalam aneka ketaatannya yang membuahkan kerinduan spiritual.

Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang :
Tardji, rindu yang kau wudhukkan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janjiNya
Bagi yang merindu insya-Allah kan ada mustajab cinta

  • Rindu spiritual, rindu suci yang dialaminya dilukiskan dengan kata “rindu yang kau wudhukan” belumlah terbalas. Namun rindu sucinyanya tak pernah padam, karena yakin akan membuahkan kebahagiaan yang tiada tara jika cintanya terbalas (mustajab).

Maka walau tak jumpa denganNya
shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat
Semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa

  • Ketaatannya membuat dia semakin bersih, semakin dekat pada sang Maha Pengampun dan semakin merasa gundah dengan waktu silamnya yang penuh ketidaktaatan.

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut
di jalan lurus
Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir
tempat usai lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu
di ujung sisa usia

  • Bekas pendosa ini berupaya keras, amat keras dalam kesungguhan di jalan-Nya. Kenikmatan di jalan lurus itu, rupanya melahirkan kekhawatiran kembalinya ke masa lalu yang penuh dengan kenikmatan semu yang terlaknat. Di sisa usianya berharap selalu dapat merasakan kenikmatan sejati dalam cahaya Illahi.

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir
tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia

  • Ya, pertaubatan mendalam dari kelalaian yang berkepanjangan itu menyebabkannya berupaya keras, amat keras dalam kesungguhan di jalan-Nya. Benar-benar ingin menjauhi arak terlaknat, yang telah dinikmatinya bertahun-tahun.

Maka pagi ini
kukenakan zirah la ilaha illallah
aku pakai sepatu siratul mustaqiem
akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
dan kurayakan kelahiran kembali
di sana

  • Maka di hari raya yang fitri ini, dia bertekad membentengi diri selamanya dengan hakikat kalimat tauhid, yaitu dengan selalu bertindak di jalan-Nya yang lurus. Upaya keras dan kesungguhan di jalan-Nya selama Ramadhan terasa berbekas dalam dirinya, yang dinyatakan dalam kalimat: “Aku bawa masjid dalam diriku”. Insya_allah dia patut merayakan hari kelahirannya kembali, Idul Fitri (kembali suci) atas segala dosa lampaunya. Amin
  • Adakah bekas Ramadhan dalam diri kita? Jika selepas Ramadhan kita tidak mampu lagi hadir di masjid ketika adzan dikumandangkan, inilah pertanda kegagalan kita! Semoga Ramadhan kali ini dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap masjid. Bisa “bawa  masjid dalam diri”, sebagaimana dipaparkan penyair dalam bait terakhirnya… Amin.

*) Catatan khusus: Gelar resminya adalah Presiden Penyair Indonesia

SILAKAN SHARE...
  •  
  •  
  • 385
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    385
    Shares
  • 385
    Shares


public speaking

9 Replies to ““Idul Fitri”, Puisi Sufistik Raja Penyair Modern”

  1. Subhanallah betul2 mengharukan, Insyaallah saya pun akan berusaha terus untuk menjadi manusia yang beriman dihadapan Allah SWT…

  2. Alhamdulillah suatu inspirasi buat saya, mudah2an manusia yang berbuat kejahatan, segera bertaubat seperti Sutardji yang berusaha keras kembali ke jalan yang lurus…Amin!

  3. Terimakasih atas pencerahanya, sangat memotivasi saya, Insyaallah selepas iedul fitri ini, saya akan terus beribadah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT.

  4. Dengan membaca artikel Pak Ustad, saya jadi teringat masa lalu saya, yang begitu jauh dari Allah SWT, sungguh sangat menyesal karena saya sudah menyia-nyiakan hidup saya, dengan itu saya sangat termotivasi sekali ketika membaca Artikel pak Ustad, Mudah2an saya dapat berjalan di jalan yang lurus sampai akhir hayat saya…Amin!

  5. Judul puisi ditulis dalam tanda kutip [“Idulfitri”]
    bukan Raja Penyair tapi Presiden Penyair Indonesia, Raja Penyair gelar Amir Hamzah.

  6. Terima kasih, Bapak Ketua Jurusan Sastra UPS telah berkenan mampir di blog saya. Saya telah menambahkan catatan khusus di akhir tulisan, bahwa gelar resminya adalah Presiden Penyair Indonesia.

  7. Pertobatan menuju Yang Fitri memang selalu indah untuk diselami. Ustad penikmat sastra juga ternyata. Salut.

  8. Semoga bisa istiqamah “bawa masjid”

Leave a Reply

Your email address will not be published.