Tafakur di Jarak 100 Juta Tahun Cahaya

Tafakur kebesaran AllahSesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir” (QS Ali Imron).

Salah satu cara untuk meyakini, memahami dan merasakan kebesaran Allah adalah dengan bertafakur tentang besarnya alam semesta. Untuk melihat besarnya alam semesta, yuk kita naik ke atas hingga jarak 100 juta tahun cahaya!

Tafakur Kebesaran Allah

Untuk mendapat hasil maksimal dari tafakur ini, bacalah artikel menarik ini dengan perlahan-lahan. Pahami dan hayati setiap nilai, istilah dan besaran dengan seksama. Baiklah, kita mulai yah…

100 juta tahun cahaya
Adalah jarak yang sangat jauh. Kecepatan cahaya 300.000 Km per detik. Dalam satu tahun ada 365 hari, dan dalam sehari ada 3600 detik. Karena itu, 100 juta tahun cahaya adalah jarak yang sama dengan: 100.000.000 x 365 x 24 x 3600 x 300.000 Km atau sama dengan 9.460.800.000.000.000.000.000 Km… Subhanallah.

Tata surya
Adalah sebuah gugus yang terdiri atas bintang (matahari) beserta planet-planet yang mengitarinya.

Galaksi
Adalah sebuah gugus yang terdiri atas ratusan milyard tata surya. Galaksi yang kita tempati bernama Bima Sakti, diameternya 80.000 tahun cahaya

Cluster Galaksi
Continue reading

Awali Tahun Baru Ini dengan Revolusi Niat!

Di awal tahun baru Hijriah ini, mari kita tengok kembali hadits yang berhubungan erat dengan konsep hijrah yang artinya kurang lebih demikian:

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niyatnya, dan bagi setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya (mencari keridhoannya) maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rosulnya (mendapat ridhonya). Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita maka hijrahnya itu tertuju kepada yang dihijrahkan.” (HR Bukhari Muslim)

Hadits ini dipandang sebagai mutiara Islam oleh para ulama, sehingga Imam Bukhari, Imam Nawawi, Imam Suyuthi dan banyak ulama lain yang menempatkan hadits tersebut di awal pembahasan dalam kitabnya.

Bahkan NIAT menjadi rukun ibadah. Shalat tanpa niat, maka shalatnya tidak syah. Demikian juga untuk ibadah lainnya.

Dua hikmah utama dari hadits tentang niat tersebut di atas adalah: Continue reading

Ingat: Jokowi itu Bukan Presiden Pilihan Rakyat!

pelantikan jokowi presidenJoko Widodo 20 Oktober 2014 dilantik jadi presiden. Siapa bilang ini presiden pilihan rakyat? Salah besar! Jokowi jelas-jelas bukan pilihan rakyat…

Pernyataan saya ini pasti akan menuai protes dari sebagian anda. Sebagian lain mungkin merasa semriwing seperti mendapat angin selatan. Iya, kan?

Apakah pernyataan ini karena dulu saya pilih Prabowo? Ya, benar saat pemilihan memang saya nyoblos nomor satu. Tapi ini bukan alasan mengapa saya bilang “Jokowi bukan pilihan rakyat!”

Begini alasan saya, simpel saja….

  • Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al Baqarah 20)
  • Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu (An Nisa 86)
  • Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi (Al Ahzab 37)

Dengan alasan-alasan itulah, maka saya berani mengatakan bahwa “Jokowi itu bukan pilihan rakyat”, tapi pilihan Allah Sang Maha Menetapkan.

Lantas jika sebagian anda ada yang heran dan tidak setuju dengan pilihan Allah ini, coba anda simak Al Baqarah 30: Continue reading

Wajib Waspadai 2 Hal Ini Setelah Gerhana

khutbah gerhana idul adha qurbanSaat gerhana, amal yang dianjurkan Rasul antara lain adalah banyak bertakbir dan sedekah. Saat Idul Adha, kedua amal tersebut (takbir dan sedekah) juga sangat dianjurkan. Takbiran Idul Adha dianjurkan hingga 4 hari, yaitu tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Di ke empat hari tersebut juga dianjurkan untuk bersedekah. Nilainya tidak main-main, dua setengah juta rupiah untuk seekor domba atau tujuh belas juta rupiah untuk seekor sapi. Sedekah hewan ini lazimnya disebut sebagai qurban. Itulah mengapa Idul Adha juga disebut dengan Idul Qurban.

Tegasnya, Idul Qurban dan gerhana memiliki dua kesamaan yaitu agar memperbanyak:
– Takbir, dan
– Sedekah

Yang menarik saat ini adalah, Idul Qurban dan gerhana terjadi berurutan. Setelah kita dianjurkan bertakbir (takbiran) dan sedekah (qurban) di tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah…. langsung disambung dengan anjuran memperbanyak takbir dan sedekah atas terjadinya gerhana bulan tanggal 14 Dzulhijjah.

Apakah rentetan peristiwan ini sebuah kebetulan? Tentu saja tidak! Bagi Allah tidak ada yang kebetulan. Semua peristiwa sudah ditentukan dengan Maha Teliti. Lantas ada apa di balik semua rentetan peristiwa ini?

Pembaca yang budiman, itulah kalimat pembuka yang saya lontarkan saat membawakan khutbah shalat gerhana bulan di Masjid Raya Taman Yasmin Bogor tanggal 14 Dzulhijjah kemarin. Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua. Simak tuntas ringkasan khubah gerhana ini yuk….

Jamaah shalat khusyuf yang berbahagia…
Rentetan peristiwa ini barangkali merupakan teguran keras bagi kita semua. Mungkin kita kurang bertakbir (mengingat kebesaran Allah) dan kurang bersedekah! Atau jangan-jangan kita masih SALAH dalam bertakbir dan SALAH dalam bersedekah sehingga Allah sampai menggandeng peristiwa gerhana bulan dengan Idul Qurban. Mari kita bermuhasabah tentang hal ini.

Pertama, apakah takbir kita sudah benar?
Takbiran atau bertakbir dengan mengucap Allahu Akbar yang artinya Allah Maha Besar, sejatinya bertujuan untuk menanamkan kesadaran dalam jiwa kita bahwa Allah itu Maha Besar.
Jika seorang lurah dipanggil walikota, dan dalam waktu yang sama juga dipanggil oleh presiden, maka sudah pasti sang lurah lebih memilih menghadiri panggilan presiden. Mengapa? Karena lurah tahu persis, bahwa presiden kekuasannya lebih besar.

Mari kita ingat lagi, bahwa takbiran (bertakbir) fungsinya adalah untuk menanamkan kesadaran bahwa Allah Maha Besar. Jauh lebih besar ketimbang presiden, apalagi dibanding walikota.

Jika besarnya kekuasaan walikota hanya sebatas kota, kekuasaan gubernur hanya sebatas sebuah propinsi, kekuasaan presiden hanya sebatas satu negara…. Maka besarnya kekuasaan Allah meliputi seluruh negara. Bahkan meliputi seluruh planet, bahkan meliputi seluruh tata surya, seluruh galaksi dan seluruh alam semesta.

Continue reading

Orang Paling Cerdas Menurut Islam

ingat mati dzikrul mautJika anda ditanya, siapakah orang yang paling cerdas di Indonesia? Besar kemungkinan anda menjawab Pak Habibie! Iya, kan? Pertanyaan ini juga pernah saya lontarkan saat memberi sambutan pelepasan calon jamaah haji di sebuah rumah di Yasmin. Jawaban audien, sama dengan jawaban anda.

Apakah jawaban itu benar?
Oleh orang awam, jawaban anda pasti dibenarkan. Tapi menurut ketentuan Nabi Muhammad, jawaban itu bisa jadi keliru, lho!. Nabi Muhammad suatu hari pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling cerdas?” Ternyata jawaban beliau bukan orang yang IQ-nya tinggi. Bukan pula orang yang berpendidikan tinggi…. Juga bukan orang yang memiliki prestasi tinggi. Anda ingin tahu jawabannya? Simak hadits di bawah ini:

Dari Ibnu Umar RA berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama? Rasulullah menjawab, “Yang paling baik akhlaqnya”. Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”. Beliau menjawab, “Yang paling banyak ingat mati kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy).

Jadi jelaslah, menurut Nabi Muhammad (atau menurut Islam), orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak ingat mati dan mempersiapkannya dengan baik.

Pertanyaan selanjutnya adalah…
Continue reading