Menyiasati Kekeliruan Persepsi “Minal Aidin”

Jika ada sahabat mengucapkan “Minal aidin wal faizin”, apa jawab anda?
Mungkin sebagian ada yang menjawab: “Sama-sama”, ada juga yang menjawab “Kosong-kosong”. Wah wah…, rupanya mereka menganggap bahwa Minal Aidin itu semacam permohonan maaf. Keliru besar!

Minal aidin wal faizin secara bahasa artinya “Dari orang-orang yang kembali dan menang”. Nah, menurut anda, ini jenis ucapan apa? Apakah ucapan selamat, doa atau permohonan maaf?

Ucapan  “Dari orang-orang yang kembali dan menang” kurang tepat jika dianggap sebagai ucapan selamat atau doa. Apalagi bila dianggap sebagai permohonan maaf…

Jadi….kalimat apakah itu?

Ternyata, minal aidin wal faizin adalah sebuah penggalan doa, yang selengkapnya berbunyi “Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal faizin” (Semoga Allah menjadikan kami dan anda sekalian dari orang-orang yang kembali dan menang). Kalau diucapkan secara lengkap, maka sangat layak dianggap sebagai doa. Dengan demikian, jika mendengar ucapan doa tersebut, anda jawab dengan ucapan “Amin”.

Bagi mereka yang telah menjalankan ibadah puasa selama 30 hari dengan baik, keadaan mereka akan KEMBALI suci (Idul fitri), kembali tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir. Mereka juga sebagai orang yang MENANG, karena berhasil mengalahkan hawa nafsu dan mendapatkan curahan rahmat yang tak terhingga dari Allah SWT. Maka, amat tepat jika di bulan Syawal ini kita sempurnakan dengan doa “Semoga Allah menjadikan kami dan anda sekalian dari orang-orang yang KEMBALI dan MENANG(Ja’alanallahu waiyyakum minal a’idin wal faizin)“.

Masalahnya adalah, bagaimana jika diucapkan hanya sepenggal, karena kebanyakan orang hanya mengucapkan “Minal aidin wal faizin (dari orang yang kembali dan menang)”?

Menyiasati masalah di atas – agar lebih afdhol – jika anda hanya mendapat ucapan “Minal aidin wal faizin” maka anda dalam hati (atau dikeraskan) menambahkan kalimat “Ja’alanallahu wa iyyakum”, kemudian mengucapkan “Amin”.

Selamat kembali dan menang… ***

SILAKAN SHARE...
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


public speaking

37 Replies to “Menyiasati Kekeliruan Persepsi “Minal Aidin””

  1. terimakasih ilmunya ustad jadi lebih paham lagi buat kami…
    kalau ditambah dengan kalimat ini “tagabalallahu minna wa minkum wa shiamana wa shiamakum” apa benar ustad mohon jawabannya

  2. gini mas, maksud dan tujuanya q udah paham. akan tetapi gaya bahasanya masih sulit dimengerti untuk usia skitar 16-20 tahun, bagi mereka yang jarang membaca akan kesulitan memahami isinya. sebaiknya to the point aja sebenernnya hal itu mana yang salah dan bagaimana seharusnya. lebih baik lagi kalo ada dalil yang menerangkannya. demikian mas makasih met lebaran ….
    TaqobbalALLAHU minna wamingkum Taqobbal yakariiim…..

    🙂

  3. SUBHANALLAH,,SINGKAT PADAT DAN SANGAT BERMAKNA, BERARTI UNTUK KITA SEMUA PARA PEMBACA.

  4. Makasih, coba anda baca lagi. Semoga dapat dipahami.

  5. Ass. Wr.Wb. Terima kasih. Penjelasan sangat bermanfaat. Wassalam

  6. Wah, terimakasih pak atas share-nya.. Oya, saya minta izin untuk memuat ulang artikel ini di blog saya.. Tentunya saya kutip juga sumber artikelnya.. Agar lebih meluas pemahaman tentang hal ini..

    Kami sekeluarga memohon maaf lahir dan bathin jika kami melakukan kekhilafan baik disengaja ataupun tidak…

    Salam,

  7. sukron,trm ksh, tengkyu, nuhun, suwun…
    lapor > aku sdh share dong…

  8. syukron ustzd kirimannya, smg jd amal jariyah. amiin….

  9. Assalamu,alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Tanya Pak Ustad apa bedanya kalau kita baca Sholawat Allahummasholli’ala sayyidina Muhammad dengan tanpa pakai kata Sayyidina

  10. Alaikum salam wr wb.
    Seperti anda mengatakan “Junjungan kita Muhammad” dan “Muhammad” saja.

  11. Benar apa yg disampaikan ustadz…masih banyak orang yg menganggap bahwa minal aidin wal faidin itu sebagai ungkapan mhn maaf lahir & batin….semoga artikel ini bermanfaat…ijin saya utk share artikelnya…maturnuwun..wassalam.

  12. Apa sumber do’a tersebut. Haditskah? Riwayat siapakah?

  13. Setahu saya itu bersumber dari ulama.

  14. terima kasih ilmumu dan terus aku baru tahu

  15. Assalamualaikum wr wb
    mungkin maksud judulnya “Menyiasati” barangkali ya.. bukan “Mensiasati”. Sebab tidak ada kata “mensuruh”, “mensakiti”, “mensetir”, “mensuarakan”, atau “mensalin” dalam bahasa Indonesia

    Salam,
    Waluyo

  16. Terima kasih koreksinya, Mas Waluyo 🙂 sudah dibetulkan

  17. assalamualaikum..
    harus disosialisasikan k banyak ranah kang…karena kata2 yg slalu diucapkan oleh kebanyakan org indonesia tlh menjadi budaya,,

  18. Alaikum salam. Ya, silakan anda share artikel tersebut

  19. Alhamdulillah, ada tambahan ilmu lagi!!. Insya Allah bermanfaat buat umat.karena ucapan Minal a’idin wal faizin yang selama ini sudah dianggap baku… ga taunya masih ada kalimat yang kurang. Khoiran katsiron pak Ustadz.

  20. Assalamu’alaikum Wr Wb. pak Ustadz.

    Saya mau tanya nih, soal sholat witir. jika kita melaksanakan witir setelah sholat tarawih, apakah kita tidak diperkenankan atau tidak diperbolehkan sholat rawatib malam lainnya seperti Tahajjud, Tasbih atau Taubat dll,banyak orang mengatakan jika kita telah melaksanakan sholat witir itu sudah dianggap penutup untuk sholat-sholat sunah/ rawatib malam lainnya. Mohon penjelasannya pak Ustadz. Jazakumullah khairon katsiron. Wassalamu;alaikum Wr Wb.

  21. Wa alaikum salam wr wb. Setahu saya, jika sudah shalat witir (setelah shalat tarawih), boleh saja melaksanakan shalat tahajud, shalat tasbih dsb dan tidak perlu shalat witir lagi.

  22. Ya, mohon beritahu sahabat2 anda dengan share artikel ini

  23. Alhamdulillah, selama ini saya belum tahu, semoga hal ini dapat menambah ilmu kita semua

  24. Terima kasih Ustadz,pencerahan tambah ilmu,insyaallah tambah rizki,“Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idina wal faizin” mohon maaf apa bila ada kesalahan yang kami perbuat kepada khususnya pa Ustadz dan TIM IMTRA selama kerjasama pelatihan di Sintang Kalbar yang kita lakukan,aminn.

  25. Terima kasih ustadz mohon ijin sudah share kpd teman-teman semoga pemahaman yang kurang tepat dapat dihayati. Aamiiin

  26. Terima kasih pencerahannya…
    Terkait pengucapan kata Amin, bagaimana pengucapan yang benar, apakah ;

    1. Amin, atau
    2. Aamin, atau
    3. Amiin, atau
    4. Aamiin, atau
    5. ….

  27. Syukran katsira, Insya Allah ana akan sampaikan ke seluruh jama’ah majlis ta’lim, khusunya yang ada di Jayapura Papua.

  28. PERIHAL KATA “MENJUNJUNG DAN JUNJUNGAN”.

    PERHATIKAN AL QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN, PETUNJUK MENUJU JALAN YANG LURUS, PETUNJUK BAGI KAUM “MUTTAQIN”. (MUSLIM, MUKMIN, MUTTAQIN. TAMPA PETUNJUK AL QUR’AN KITA PASTI “SALAH” DAN TIDAK DAPAT BERAMAL “SHOLEH”.

    DALAM SURAT AL HAQQAH 17 SBB :”MALAIKAT2 BERADA DI-PENJURU2 LANGIT. DAN PADA HARI ITU DELAPAN (8) ORANG MALAIKAT “MENJUNJUNG” ARASY TUHANMU DIATAS KEPALA MEREKA”.

    DISITU JELAS BIN TEGAS DITULIS BAHWA KATA2 “JUNJUNGAN, MENJUNJUNG DAN DJUNJUNG” HANYA UNTUK ALLAH SEMATA WAYANG, TIDAK UNTUK LAINNYA, SIAPAPUN MANUSIA ITU. ALLAH PEMBERI RAHMAT DAN HIDAYAT, KARENANYA ALLAH BERHAQA ATAS SEGALA-GALANYA. KITA SELAKU HAMBANYA PERLU EXTRA HATI HATI DALAM MEMUJI RASUL ALLAH, WAJIB ATAS SE-IZIN ALLAH, TERUTAMA TENTANG KATA KATA YANG WAJAR KITA SAMPAIKAN KEPADA RASUL ALLAH. TIDAK BOLEH MENGADA-NGADA KARENA ITU BERARTI BERLEBIH-LEBIHAN YANG ALLAH TIDAK SUKA. PUJI MUHAMMAD SEKEDAR YANG PANTAS UNTUKNYA SAJA. SAYA KHAWATIR KELAK KITA AKAN KETULARAN PENYAKIT KAUM YAHUDI DAN NASRANI DAN SHI’AH, YANG BENAR2 “MENUHANKAN” RAHIB2NYA , PENDETA2NYA DAN IMAM2NYA. INI CONTOH SANGAT TERANG BIN GAMBLANG BAGI KITA SEMUA. MOHON DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI, MOHON TIDAK MENERUSKAN KATA “JUNJUNGAN” UNTUK MUHAMMAD RASUL ALLAH.

    KARENA KATA JUNJUNGAN HANYA LAYAK UNTUK ALLAH SAJA, ALLAH ONLY. “SEGALA KEMULIAN MILIK ALLAH” (FATHIR 10).

    MUDAH2AN KITA CERMAT DALAM MELETAKKAN NERACA KEADILAN BAGI ALLAH DAN RASULNYA. ALLAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU DALAM TEPAT AKURAT TIADA CELA ATAU CELAH SEZARRAH-PUN.

    KALAU BISA MENIRU/MENUJU PADA RUJUKAN SEPERTI ITU MAKA, KITA HAMBA ALLAH YANG SUPERIOR DIMATA ALLAH. SILAKAN MEMPELAJARI DAN MEMAHAMINYA. ALLAH PASTI MENUNJUKKAN JALANNYA YANG LURUS.
    INSYA ALLAH.

  29. PERIHAL “DARI SUMBER ULAMA”.
    AL QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK KAUM MUTTAQIN MENGATAKAN SEBAGAI BERIKUT DALAM AL BAQARAH 59: (SILAKAN BACA SENDIRI). NAMUN INTI SARI AYAT TERSEBUT AKAN SAYA SARIKAN : BAHWA AGAMA/SYARIAT ISLAM TELAH ALLAH SEMPURNAKAN DARI PENDAHULUNYA SEMISAL TAURAT, ZABUR DAN INJIL. KARENA TELAH “SEMPURNA”, MAKA TIDAK SEORANG ULAMAPUN BAHKAN SEORANG RASULPUN BERHAQ MENAMBAH/MENGURANGI APA YANG TELAH ALLAH SEMPURNAKAN. SELURUH AMAL IBADAH DALAM SYARIAT ISLAM WAJIB ATAS PERINTAH ALLAH SEMATA WAYANG. BAHKAN RASUL MUHAMMADPUN TIDAK DIBERI “WEWENANG” MENGUBAH ATAU MENGOBOK-OBOK AYAT AYAT ALLAH. (LHA, NANTI KAYAK NASIB TAURAT/INJIL.)

    PENALTY/HUKUMANNYA SANGAT BERAT : 2 X ZALIM DAN 1X FASIK BAGI SIAPA SAJA YANG MENGERJAKAN AMALAN2 YANG BUKAN DARI PERINTAH ALLAH DAN CONTOH RASUL ALLAH. HATI HATI SAUDARAKU !!!!!!!!!!!!HATI HATI LAH.

    SYARIAT ISLAM AMAT MUDAH ASALKAN TIDAK BERCAMPUR DENGAN PERINTAH ULAMA. ULAMA TIDAK MAKSUM SEBAGAIMANA PARA RASUL – OLEH KARENA ITU MEREKA BISA SAJA SALAH, KELIRU, TERKHILAF DLL.) ITULAH SEBABNYA ALLAH PERINTAHKAN PERTAMA UTAMA BACA BACA BACA AGAR HAMBANYA MAKLUM. LAIN HALNYA DIZAMAN TAURAT DAN INJIL YANG TIDAK DIPERINTAHKAN MEMBACA, KARENA SAAT ITU KITAB SUCI DI MONOPOLI PARA RAHIB/PENDETA.

    BUKANKAH KINI AL QUR’AN DAPAT DIPUNYAI OLEH SIAPA SAJA ? LHA KOK GAK DIBACA ??? BAGAIMANA MENGHADAP ALLAH KELAK DI YAUMIL HISAB, KALAU KITA GAK NGERTI HUKUM HUKUMNYA ? KAN BUKAN ZAMANNYA BUTA HURUF KAYAK ZAMAN MUSA DAN ISA. LALAU, BAGAIMANA KITA MENJAWAB PWERTANYAAN2 ALLAH???

    OLEH KARENA ITU, MULAI HARI INI, SILAKAN KAJI ULANG, INTROSPEKSI BERAT2AN PADA MASING2 DIRI, SAMBIL BERTANYAKAN, APAKAH AMAL2 HARIAN KITA DATANG DARI ALLAH ATAU BUKAN. ALLAH HANYA MENGAKUI YANG DATANG DARINYA. SAMA SEKALI BUKAN DARI PERINTAH ULAMA. HATI HATILAH SAUDARAKU SEMUANYA.

    SAYA BERLANDASKAN PADA HUJJAH2 YANG TERDAPAT DALAM AL QUR’AN. NO DOUBT ! TAMPA KERAGUAN SEDIKIT JUAPUN, ITULAH AL QUR’AN. OLEH KARENA ITU JANGAN RAGU RAGU MENERIMA AYAT ALLAH DI ALBAQARAH 59 ITU.

    MOHON MAAF, DAN TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN YANG DIBERIKAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published.