Cara Shalat Nabi, Bukan Berdiri Biasa!

Shalat Nabi, Cara Shalat, tentang shalat, belajar shalat

Berdiri dalam shalat, ternyata tidak seperti berdiri biasa, lho! Seperti apakah cara berdiri dalam shalat? Penasaran? :) Inilah pentingnya mempelajari tata cara shalat nabi. “Shalatlah seperti engkau melihat aku shalat” (HR Bukhari).

Orang bersepatu ini tentu bukan orang yang sedang shalat. Perhatikan baik-baik posisi kakinya: tapak kaki kanan menghadap serong kanan, dan tapak kaki kiri menghadap serong kiri. Setiap orang berdiri dengan cara seperti ini…, termasuk anda tentunya. So, bagaimana cara berdiri dalam shalat?

Cara Shalat Nabi, Bukan Berdiri Biasa
Berdiri dalam shalat, cara berdiri yang tidak biasa. Ya, bukan berdiri biasa! Karena dalam shalat, anda harus berdiri dengan kedua tapak kaki menghadap kiblat. Tidak serong kanan-kiri seperti gambar di atas.

Apa dasarnya, dan apa manfaatnya?
“Apabila kamu berdiri untuk shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kearah kiblat, lalu bertakbirlah” (HR Bukhari – Muslim). Yang dimaksud menghadap kiblat di sini adalah badan dan jari-jari kakinya. Fungsinya? Agar shalat menjadi sempurna! Simak hadits berikut:

“Lurus dan rapatkan shaf kalian, karena lurus dan rapatnya shaf adalah bagian dari kesempurnaan tegaknya shalat” (HR Bukhari, Muslim). Yes, hadits ini seringkali dibaca oleh imam menjelang shalat berjamaah di masjid.

Nah, coba perhatikan baik-baik skema berikut ini:

cara shalat, shalat nabi, tentang shalat

Berdiri dengan cara biasa (serong kanan-kiri, gambar 2), menghasilan shaf yang tidak rapat (gambar 3). Untuk memperoleh shaf yang rapat, tentu cara berdirinya harus spesial, yaitu kedua tapak kakinya menghadap kiblat (gambar 1), sehingga barisan shaf bisa rapat (gambar 4).

Nah, kembali ke hadits berikut:
“Apabila kamu berdiri untuk shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap kearah kiblat, lalu bertakbirlah” (HR Bukhari – Muslim).
Sudah jelas, toh… yang dimaksud menghadap kiblat di sini adalah badan dan jari-jari kakinya. Jadi, berdiri dengan kedua tapak/jari-jari kaki menghadap kiblat ini juga berlaku jika kita shalat sendiri (shalat sunnah).

Inilah cara shalat nabi, bukan berdiri biasa. Berdirilah dengan kedua tapak kaki menghadap kiblat, dan….. rasakan bedanya!

Untuk input kami, jika anda suka artikel ini : Klik 'Like'
Dan jika ingin ikut berbagi ke teman : Klik t / f / M

47 thoughts on “Cara Shalat Nabi, Bukan Berdiri Biasa!

  1. somawijaya

    Asalamualikum. sejak saya membaca artkel yang pak ustadz sajikan, saya berusaha untuk mempraktekannya dan alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai terbiasa diantaranya posisi kaki ketika berdiri.
    namun muncul pertanyaan bagaiman dengan imam yang posisi kakinya selalu serong kiri/kanan, apakah mengurangi syahnya syalat kami yang ada dibelakang imam tersebut?
    Mohon penjelasannya? terima kasih

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Wa alaikum salam, Pak Soma.
      Tidak sampai membatalkan shalat, hanya saja mengurangi sempurnanya shalat.

      Reply
  2. bahnan husni

    Assalamualaikum warah matulllahi wabarakatuh, pak Ustad saya sudah melaksanakan posisi kaki dalam salat sepertiitu, tapi dimasjid saya sebagian besar orang belum / tidak mau melaksanakannya.. bahkan ada ustad dimasjid kami yang mengatakan kalau posisi kakinya rapat dengan jamaah di sebelahnya dia merasa risih dan terganggu, sehingga kalau kita merapat dia akan menjauh, demikian juga jamaal yang lain banyak yang seperti itu..Bagaimana untuk mengatasi ini ustad.. syukron

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Wa alaikum salam warah matulllahi wabarakatuh.
      Merubah kebiasaan itu memang sulit, perlu sosialisasi pak.
      Biaskanlah melakukan kebenaran, jangan membenarkan kebiasaan.

      Reply
  3. ai zairin

    Assalamualaikum pak Ustad

    Kalau saya solat dengan tumit bertemu, ibu jari saya tidak menghadap kiblat (karena kaki saya jari2 nya besar) sehingga lebih lebar dari tumit.
    Bagaimana solusinya untuk jari2 yg seperti itu.
    terimakasih pak ustad

    Wasalam
    Ai

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Wa alaikum salam wr wb.
      Yang penting diusahakan agar tapak kaki anda dan tapak kaki orang di samping anda rapat.

      Reply
  4. Husin

    Alhamdulillah Pak Ustadz saya sudah terbiasa dengan kaki dan jari2nya menghadapa kiblat apabila sedang shalat wajib dan sunah, terimakasih atas informasinya..

    Reply
  5. Muti

    Setelah saya baca artikel Pak Ustadz, memang sangat jauh sekali dengan apa yang selama ini saya kerjakan, ternyata saya salah selama ini, terimakasih banyak Pak Ustadz sudah mengingatkan, Insyaallah saya akan memperbaikinya..

    Reply
  6. rachmat subekti

    Alhamdulillah ya Allah
    Telah memberikan petunujuk pada hambaMU ini untuk menuju kesempurnaan Shalat, yang tidak saya sadari telah menemukan petunujuk ini. Terimakasih Bapak Ustadz, semoga Allah selalu melindungi kita semua sebagai hambaMu.

    Reply
  7. indra

    Tp sy prihatin pak ustadz, di masjid2 saat ini kerapatan shaf sama sekali tidak diperhatikan. Jemaah lbh mementingkan dpt posisi yg tepat pada sejadah daripada merapatkan shaf, sbgimana kt ketahui bhw sajdah yg bentuknya panjang kesamping saat ini ad space yg memisahkan.

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Betul, Pak Indra. Perlu sosialisasi terus menerus. Silakan print artikel ini dan tempel di masjid anda.

      Reply
  8. Budi Santoso

    Waduh…ternyata masih salah gerakan shalat yang saya lakukan selama ini. Dan saya juga rada bingung ketika saya rapatkan kaki saya dengan teman sebelah ketika shalat berjamaah, ada yang malah menjauhkan kakinya. bagaimana cara ngasih tahunya ya Ustad?

    Reply
  9. ucok

    terima kasih tulisannya, ijinkan saya untuk mengkopi tulisan anda, semoga bermanfaat untuk saya dan rekan2, aamiin…

    Reply
  10. Abu Fikri

    Bismillaah,

    Sekedar ingin melengkapi.

    Hadits riwayat Bukhari dari Abi Humaid r.a, ia berkata: “Rasulullaah menghadapkan jari-jari kakinya ke kiblat.”

    Hadits ini harus sering disampaikan kepada makmum bila kita menjadi imam. Kita juga sering-sering menyampaikan hadits ini kepada para imam shalat di masjid-masjid dan surau-sura di sekitar kita. Dengan begitu kita akan melihat shaf shalat berjamaah saudara kita rapat dan lurus dengan sempurna.

    Wallaahu a’alam.

    Reply
  11. Abu Fikri

    Bismillaah,

    Sebab umat Islam Indonesia enggan merapatkan:
    1. Belum sampainya ilmu tentang cara shalat Nabi kepada mereka dikarenakan mereka enggan menuntut ilmu
    2. Maka, cara berdiri mereka salah dengan jari-jari kaki mereka tidak menghadap kiblat. Jari-jari kaki kanannya menyerong ke utara dan jari-jari kaki kirinya menyerong ke selatan.
    3. Dengan begitu, ketika merapatkan shaf, bukan mata kakinya yang menempel dengan mata kaki kawannya, tapi jarai kelingkingnya menempel dengan jari kelingking kawannya.
    4. Bila kelingkingnya berkuku, maka kukunya akan menyakiti kelingking kawannya.
    5. Bila kakelingkingnya sakit cantangan, maka ia akan merasa kesakitan tersentuh (apalaagi terinjak) kelingking kawannya.
    6. Mereka merasa tidak nyaman saat diajak merapatakan shaf dengan mengatakan: “Shalat kok berdesak-desakan.”

    Wallaahu a’lam.

    Reply
    1. ajihafas

      Alhamdulillah, ana juga dah terbiasa berdiri mcm itu. saya mmg dah lama cari dasar hadits tsb. Dan bung abu Fikri tlh pun menulis diatas. Namun utk lebih memantapkan pd shbt2 kita, tolong dijelaskan hadits Bukhori tsb. tercantum pada kitab mana, hadits nomor berapa, shohifah berapa.

      Reply
  12. irfandy

    cara berdiri sholat yang benar bukan seperti itu, tapi posisi kaki sama seperti posisi siap, jadi kedua tumit ketemu dan ujung2 kaki melebar. pokoknya seperti posisi siap.

    apa yang anda sampaikan hanyalah cerita dari orang satu ke orang lainnya hingga sampai ke anda dan kami, namun kalau cuma cerita tambah cerita hasilnya hanyalah cerita, sedang islam adalah peristiwa bukan cerita.

    hadist ada sesudah rasulullah wafat, nah, hadist adalah cerita dari seseorang ke orang lainnya hingga sampai ke kita, iyakan ??? namun bagaimana kita bisa membuktikan kalau hadits itu benar dilakukan rasulullah atau tidak ?

    tentunya untuk membuktikan hadits itu benar atau tidak adalah dengan cara hadits itu harus terjadi sama kita dalam bentuk peristiwa bukan hanya cerita……, oke

    contohnya cara sholat :

    sholat terjadi sama rasulullah = peristiwa
    peristiwa ini di ceritakan oleh orang yang melihat rasulullah sholat = cerita dalam bentuk hadits…..,

    namun faktanya, yang sampai ke kita sekarang ini berdasarkan cerita tersebut ada banyak jumlahnya ngak tau mana yang benar dan mana yang salah dan yang mana yang mau di ikuti dan mana yang tidak bisa di ikuti…..,

    iya khan,

    harusnya peristiwa sholat yang terjadi pada rasulullah bisa juga terjadi pada kita, karena kita adalah ummatnya, yang bakal menerima apa yang diterima oleh rasulullah saw.

    oke, selama sholat belum terjadi sama pak ustad, sebaiknya pak ustad ke laut ajha……., oke….,karena islam bukan cerita tapi peristiwa, sadarlah anda sudah memalukan islam…..,

    ustad goblok loe…., ahahahahahah

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Yang anda katakan betul, agar kedua tumit bertemu. Anda pintar! Tapi saya rasa anda kurang memahami tulisan saya. Contoh gambar yang paling atas adalah contoh yang salah. Allahummaghfirlii wa laka.

      Reply
  13. Piya

    sdr irfandy, anda tepat sekali kalau cuma cerita yg sampai ke kita, belum bisa sepenuhnya dicontoh, Rasul juga 11 tahun lebih menyempurnakan Tauhid baru ada perintah sholat, knapa gerakan sholat saja yg dirundingkan, Tauhid nya mana??

    Reply
  14. bunda yuniar

    Assalamu’alaikum Ustadz..
    Alhamdulillah, kemarin saat mau sholat Iedul Adha 1432 H di kampung saya, Imam tidak hanya menyerukan untuk meluruskan dan merapatkan shaf, tetapi beliau juga menjelaskan secara singkat posisi kaki dan bahu harus saling menempel, Alhamdulillah diikuti oleh semua jamaah, kecuali beberapa yang masih bertahan di atas sajadahnya yang lebar..

    Reply
  15. Teguh

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Saya mau tanya Kenapa waktu Shalat Wajah kita menghadap kebawah tidak lurus ke arah kiblat Jika dalam Hadist yang dimaksud menghadap kiblat di sini adalah badan dan jari-jari kakinya.
    Karena dalam bahasa sehari-hari yang saya ketahui menghadap pasti harus ada wajahnya.
    Terima Kasih. Wassalam…

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Wa alaikum salam wr wb. Karena hadits untuk wajah ada tersendiri, yaitu “Ketika Rasulullah SAW shalat, beliau menundukkan kepala dan pandangan matanya diarahkan ke tanah (tempat sujud) (HR Baihaki – Hakim).

      Reply
  16. salikan santoso

    assalamualaikum ustadz,,,alhamdulillh sy udah b’usaha semaksiml mungkin untuk m’ngikuti cara2 shalt yg benr, mo nanya sedikt blh kan? Di surau tempt sy, dlm shalt traweh khususnya, krna shalat 20 rekaat di tmbh 3 rekaat witir…itu bacaan ruku dan sujud hanya di bc 1x, trs tahyat akhrnya hanya sampe pd sholwt nabi. Apakah itu sah ustadz?. Trm ksh assalamualaikum

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Wa alaikum salam… Bacaan ruku dan sujud tidak harus 3x. Terus, pada takhyat akhir jika hanya membaca shalawat atas nabi Muhammad (tidak dilengkapi dengan nabi Ibrahim), juga tetap syah.

      Reply
  17. Pingback: Qana’ah dan ’Iffah | Yayasan Masjid Raya Taman YasminYayasan Masjid Raya Taman Yasmin

  18. ajihafas

    Bang abu fikri, tolong sebutkan hadits itu dihalaman berapa kitab mana’ ini utk lebih meyakinkan shbt2 ana. Jazakalloh.

    Reply
  19. iqbal

    Ass… ustadz
    Sy mau bertanya sehubungan dgn pembahasn menempelkan kki dan bhu ketika shalat…
    Yg sy tau, hrs menempel krn agar tdk ada setan yg bs mengisi celah ketika kita shalat..
    Pertnyaan sy
    1. Apa bs setan masuk masjid, apalagi sdg shalat jamah ?
    2. Bgmana dgn imam yg “sendiri” didepan ?
    3. Setan itu tdk terbatas ruang dan wkt, bgmn dgn org yg shalat paling ujung, sampingnya tembok ?
    4. Bgmna dengan brisan paling belakang yg hanya terisi, 3 sampai 4 orang ? Bgmna dengan knan kirinya ? Harus dirapatkan ke siapa ?

    Setn akn dgn mudah mengganggunya

    Terimakasih ustadz mohon pencerahannya…
    Wassalam…

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Masalah2 keberadaan setan yang anda tanyakan saya tidak tahu. Saya rasa tidak usah dirisaukan. Yang penting bagi kita, mari kita shalat berjamaah di masjid dengan tata cara yang benar seperti yang Rasul contohkan. Insya_allah gangguan setan akan tertangani.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>