Tidak Shalat Berjamaah? Anda Bisa Dipecat…

Anda tidak shalat berjamaah di masjid? Anda bisa dipecat lho…

Anda seminggu tidak masuk kantor tanpa alasan yang jelas. Karena ini dianggap sangat fatal, anda langsung mendapat peringatan keras dari manager personalia, “Maaf, terpaksa anda dipecat… jika anda mengulanginya!”

Coba bayangkan seandainya ini benar-benar terjadi pada anda, anda mendapat peringatan keras. Bagaimana perasaan anda? Bagaimana sikap anda selanjutnya?

Anda pasti takut terhadap ancaman ini, bukan? Andapun tentu tidak akan mengulangi tindakan bodoh itu selama-lamanya… kalau anak-anak anda ingin tetap bisa sekolah, dan dapat memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga.

Memiliki pekerjaan adalah suatu yang harus disyukuri, bukankah dengan bekerja kita mendapatkan upah dan kebahagiaan? Bukankah tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan? Sebaliknya, pengangguran menyebabkan kemiskinan dan kesengsaraan.

Sekali lagi, bagaimana seandainya jika anda benar-benar mendapat ancaman keras akan diberhentikan kerja?

Rasulullah SAW bersabda: ” Demi dzat yang diriku ditanganNya, aku ingin menghimpun kayu bakar, lalu kusuruh seorang mengumandangkan adzan shalat, dan kusuruh pula imam memimpin shalat berjamaah, dan kudatangi mereka yang tidak shalat berjamaah, kubakar mereka bersama rumah-rumahnya” (HR Bukhari-Muslim).

Ini sangat berbahaya, Bung! Untuk anda yang sudah berhari-hari tidak masuk kantor masjid untuk shalat berjamaah

Coba renungkan baik-baik, apakah anda saat ini termasuk dalam orang yang diancam keras oleh Rasulullah SAW karena enggan menghadiri shalat berjamaah di masjid? Sudah berapa minggu, bulan atau bahkan tahun anda tidak hadir shalat berjamaah di masjid?

Jika anda termasuk orang yang terkena ancaman ini, semestinya anda jauh lebih takut ketimbang sekedar diancam oleh manager personalia!

Jika Rasulullah SAW sangat membenci anda (karena tidak mau hadir memenuhi panggilan adzan), pantaskah anda mengaku sebagai ummatnya? Jika Rasulullah SAW sangat membenci anda, bahkan sampai besumpah ingin membakar anda beserta rumahnya, pantaskan anda mengharap syafaatnya di hari kiamat?

Jika sang Nabi kekasih Allah SWT sangat tidak menyukai anda karena tidak mau hadir shalat berjamaah, bahkan sudah memberi ancaman keras namun anda tetap tidak menghiraukannya… pantaskah anda tetap mengharap agar doa-doa anda terkabul? Pantaskah anda tetap ngotot ingin masuk surga-Nya?

Ikhwan, bagaimana kalau anda benar-benar dipecat (tidak diakui) sebagai ummat Nabi Muhammad?

Renungkan sekali lagi…
Memiliki pekerjaan (shalat berjamaah) adalah suatu yang harus disyukuri, bukankah dengan bekerja (shalat berjamaah) kita mendapatkan upah (pahala dan fadilah yang sangat besar) dan kebahagiaan (surga)? Bukankah tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan (hanya anda, moslem only)?! Sebaliknya, pengangguran (tidak shalat berjamaah) menyebabkan kemiskinan (pahalanya hanya 1/27) dan kesengsaraan (diancam Rasulullah SAW).

Ikhwan, mumpung masih ada kesempatan, mari kita berusaha keras untuk selalu menghadiri panggilan Allah, dengan shalat berjamaah di masjid. Untuk akhwat, silakan baca artikel “Shalat Berjamaah di Masjid Bagi Wanita”.

SILAKAN SHARE...
  •  
  •  
  • 596
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    596
    Shares
  • 596
    Shares


public speaking

26 Replies to “Tidak Shalat Berjamaah? Anda Bisa Dipecat…”

  1. Subhanallah, jadi merinding saya membacanya, betapa marahnya Rosulullah SAW kepada umatnya yang tidak mau shalat berjamaah, sampai2 mau membakar orang2 yang tidak mau shalat berjamaah berserta rumah2nya. Iih ngeri!!!

  2. Memang betul Ustadz, jika kita tidak mau lagi shalat berjamaah di masjid, kita ga akan mungkin mendapatkan syafaat dari Rosulullah SAW, kalau begitu marilah kita istiqomahkan niat kita untuk shalat berjamaah di masjid..

  3. Na’uzubilah, jika Rosulullah sampai membeci saya, selaku umatnya, oleh karena itu saya akan istiqomah untuk menjalankan shalat berjamaah di masjid, Insyaallah…

  4. Subhnallah artikel yang bagus sekali, Insyaallah Pak Ustadz saya akan tetap istiqomah menjalankan shalat berjamaah di masjid…

  5. Alhamdulillah saya sudah bisa istiqomah shalat berjamaah Pak Ustadz, Terimakasih atas ilmunya…

  6. apa lagi bisa berjamaah dimasjid sempurna yg terbuat dari tanah
    akal sebahagi kesadaran tertinggi sebagai imamnya
    semua elemen yang lain sebagai makmumnya.
    terwujud sembah dan yang disembah.
    tercapai sahadat yang semestinya

  7. Jumhur ulama menyatakan itu sunnah muakad saja…Tidak ada dalilnya menyatakan sholat jamaah itu wajib! (Allah dan Rasulullah tidak pernah secara explisit menyatakan Haram tidak salat berjamaah, padahal bahasa perintah itu harus explisit, misal Haram makan daging babi atau terlaknatlah yang disuap dan yang meberi suap). Apalagi imamnya beri’tiqad salah maka wajib kita tidak mengikuti. Apalagi sekarang banyak golongan yang beri’tiqad mujasimmah seperti kelompok Wahabi.

    Jadi kita tidak usah meributkan sholat jamaahnya jika i’tiqad kepada Tuhan belum beres lagi..bagaimana akan diterima?. Dulu para sahabat rebutan jd ma’mum Rasulullah sebab beliau lurus i’tiqadnya, terbukti kemuliannya dan demi konsolidasi umat pada waktu itu. “Dan ruku’ lah kamu beserta orang-orang yang ruku'”. Maksudnya sholatlah berserta orang2 yang mengenal Allah dan mengagungkanNya dengan tepat.

    Memang afdol bila kita bejamaah dan nilainya 27 kali lebih tinggi dari sholat sendirian, jadi yang penting mandirikan sholatnya dan tepat waktu. Dan yg lebih penting lagi dan syarat pertama adalah i’tiqad yang benar kepada Allah.

    Ini pas makan nasi saja masih maanggap nasi punya kuasa menghilangkan lapar…berarti Allah bersekutu dengan nasi itu padahal wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadir…bukankah cuma allah semata yang memiliki Qudrah? subhanallah

  8. sholat….
    masya Allaah… sulitnya menjaga sholat 5 waktu
    tapi masih beruntung bisa mendirikan sholat….
    >>>>orang islam yang ga sholat??…… who cares( siapa peduli)

    sholat berjamaah….
    subhaanallaah…. inilah sunaanulhuda. rosulullah SAW menjalankannya hingga tutup usia. banyak hikmh yang belum terungkap dari sholat berjamaah.
    >>>>sholat dirumah ajah / sendirian ajaah biar khusyu…. smoga Allh SWT memperbaiki sholatnya

    mohon koreksi gan..

    jangan lupa niat ikhlas lillahi ta’ala

  9. Tidak dibenarkan shalat sendiri dengan alasan agar lebih khusyu.

  10. Sholat……………
    kenapa sholat kok harus ada ancaman atau intimidasi…
    kenapa sholat harus ditakut-takuti seperti itu….
    sebenarnya apa sholat….
    untuk apa sholat…..
    mengapa harus sholat….
    untuk siapa sholat…..

  11. ini baru agak mending bisa diterima nalar….

  12. Ancaman itu dari Rasulullah SAW. Mengapa anda mempertanyakan ancaman Rasul?

  13. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    salam silaturahmi Ustad..terima kasih tuk mengingatkan kembali betapa nilai shalat berjamaah sangat tinggi..sampai2 Rasul pun gemas pada umatnya yang lelet tuk dapat pahala terbaik dari Allah (Hadits di atas)…jd mangga itu pilihan ada fasilitas VIP,eksekutif, atau ekonomi…

  14. Wa alaikum salam wr wb. Terima kasih juga, Pak.

  15. Masih banyak saudara2 kita yang enggan untuk sholat berjamaah,bagaimana cara mengajak mereka dengan cara yang bijak P Ustadz, terima kasih.

  16. Saat mengadakan Peringatan Hari Besar Islam, coba diisi dengan ceramah tentang pentingnya shalat berjamaah. Bapak juga bisa pasang spanduk untuk mengajak shalat berjamaah, dan sebar buletin GPKSB. Silakan lihat contoh spanduk dan download buletin motivasi shalat jamaah di GPKSB.wordpress.com

  17. Sdr Muhh Age… yg namanya Ahkmad Tefur (Ustadz ujar dia) g akan brani Muzakarahkan Narasi yg anda uraikan diatas…. dimana dia cuma sanggup menulis aja, {Soalnya jika ditulis itu Surah namanya, dan jika dibaca itu Lafadz namanya} jika kita sudah duduk dan berada pd Ilmunya, g usah ikut2an di ajang sini, karena jika kita menerangkan sesuatu kepada “ORANG Yg Tidak PUNYA Pendirian” itu akan sia2,, bahkan akan melunturkan apa yg sudah kita miliki…

  18. Hukum Shalat Berjama’ah

    Shalat berjama’ah disyari’atkan dalam Islam, akan tetapi para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya dalam empat pendapat:
    1. Hukumnya fardhu kifayah.
    Ini merupakan pendapatnya Imam Syafi’i, Abu Hanifah, jumhur ulama Syafi’iyah mutaqadimin dan banyak ulama Hanafiyah dan Malikiyah.
    Al Haafidz Ibnu Hajar berkata: “Zhahirnya nash (perkataan) Syafi’I, shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. Inilah pendapat jumhur mutaqaddim dari ulama Syafi’iyah dan banyak ulama Hanafiyah serta Malikiyah”[5]. Dalil mereka:
    Hadits pertama:
    Artinya:“Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali Syeithon akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian”[6]. As Saaib berkata: “Yang dimaksud berjamaah adalah jamaah dalam shalat.”[7]
    Hadits kedua:
    Artinya: “Kembalilah kepada ahli kalian, lalu tegakkanlah shalat pada mereka serta ajari dan perintahkan mereka (untuk shalat). Shalatlah kalian sebagaiamana kalian melihat aku shalat. Jika telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang kalian beradzan dan yang paling tua menjadi imam.“ [8]
    Hadits ketiga:
    Artinya: “Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.‘” [9]
    2. Dihukumi sebagai syarat sah shalat. Shalat tidak sah tanpa berjama’ah kecuali dengan adanya udzur (hambatan).
    Ini pendapat zhahiriyah dan sebagian ulama hadits. Pendapat ini didukung oleh sejumlah ulama diantaranya: Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Aqiil dan Ibnu Abi Musa. Diantara dalil mereka:
    Hadits pertama:
    Artinya: “Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.“ [10]
    Hadits kedua:
    Artinya: “Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka.” [11]
    Hadits ketiga:
    Artinya: “Seorang buta mendatangi Nabi n dan berkata: “wahai Rasulullah aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid”. Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah n sehingga boleh shalat dirumah. Lalu beliau n memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan nabi n langsung Rasulullah memanggilnya dan bertyanya: “apakah anda mendengar panggilan adzan shalat? Dia menjawab: “ya”. Lalu beliau berkata: “penuhilah!”.” [12]
    3. Hukumnya sunnah muakkad
    Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Malikiyah. Imam Ibnu Abdil Barr menisbatkannya kepada kebanyakan ahli fiqih Iraq, Syam dan Hijaaj. Dalil mereka:
    Hadits pertama:
    Artinya: “Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah n bersabda: Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.“ [13]
    Hadits Kedua:
    Artinya:“Sesungguhnya orang yang mendapat pahal paling besar dalam shalat adalah yang paling jauh jalannya kemudian yang lebih jauh. Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat kemudian tidur. Dalam riwayat Abu Kuraib: sampai shalat bersama imam dalam jama’ah.“ [14]
    Imam Asy Syaukaniy menyatakan setelah membantah pendapat yang mewajibkannya: “Pendapat yang pas dan mendekati kebenaran, shalat jamaah termasuk sunah-sunah yang muakkad. Adapun hukum shalat jama’ah adalah fardhu ‘ain atau kifayah atau syarat sah shalat maka tidak”. Hal ini dikuatkan oleh Shidiq Hasan Khon dan pernyataan beliau: “Adapun hukumnya fardhu, maka dalil-dalil masih dipertentangkan. Akan tetapi disana ada cara ushul fiqh yang mengkompromikan dalil-dalil tersebut, yaitu hadits-hadits keutamaan shalat jama’ah menunjukkan keabsahan shalat sendirian. Hadits-hadits ini cukup banyak, diantaranya :
    Orang yang menunggu shalat sampai shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur. Hadits ini dalam kitab shohih.
    Juga diantaranya hadits orang yang salah shalatnya yang sudah masyhur, dimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkannya mengulangi shalat sendirian. Ditambah dengan hadits:
    Artinya: “Seandainya ada seorang yang bersedekah kepadanya“ [15]
    Ketika melihat seorang shalat sendirian. Diantara hadits-hadits yang menguatkan adalah hadits yang mengajarkan rukun islam, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memerintahkan orang yang diajarinya untuk tidak shalat kecuali berjama’ah. Padahal beliau mengatakan kepada orang yang menyatakan saya tidak menambah dan menguranginya: “aflaha in shadaqo” (telah beruntung jika benar) dan dalil-dalil lainnya. Semua ini dapat memalingkan sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam: “fa laa sholaata lahu” yang ada pada hadits-hadits yang menunjukan kewajiban berjam’ah kepada peniadaan kesempurnaan bukan keabsahannya”[16]. Pendapat ini dirajihkan As Syaukani dan Shidiq hasan Khon serta Sayyid Saabiq.[17]
    4. Hukumnya wajib ain (fardhu ‘ain) dan bukan syarat
    Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Musa Al Asy’ariy, Atha’ bin Abi Rabbaah, AL Auzaa’iy, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibaan, kebanyakan ulama Hanafiyah dan madzhab Hambali. Dalil mereka:
    Firman Allah Ta’ala :
    Artinya: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bershalat,lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.“ [QS. An Nisaa’:102]
    Dalam ayat ini terdapat dalil yang tegas akan kewajiban shalat berjamaah. Shalat jamaah tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan udzur seperti ketakutan atau sakit.
    Firman Allah Ta’ala:
    Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’“.[QS. Al Baqarah :43]
    Ini adalah perintah, kata perintah menunjukkan kewajibannya.
    Firman Allah Ta’ala:
    Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. [QS. Annur :36-37]
    Firman Allah Ta’ala:
    Artinya: “Katakanlah:”Rabbku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah):”Luruskan muka (diri)mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepadaNya”“. [QS.Al A’raf :29]
    Kedua ayat ini ada kata perintah yang menunjukkan kewajibannya.
    Firman Allah Ta’ala:
    Artinya: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.“ [QS. Al Qalam :42-43]
    Ibnul Qayyim berkata: “Sisi pendalilannya adalah Allah Ta’ala menghukum mereka pada hari kiamat dengan memberikan penghalang antara mereka dengan sujud ketika diperintahkan untuk sujud. Mereka diperintahkan sujud didunia dan enggan menerimanya. Jika sudah demikian maka menjawab panggilan mendatangi masjid dengan menghadiri jamaah shalat, bukan sekedar melaksanakannya di rumahnya saja”.
    Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
    Artinya: “Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka“[18]
    Ibnu Hajar dalam menafsirkan hadits ini menyatakan: “Adapun hadits bab (hadits diatas) maka zhahirnya menunjukkan shalat jamaah fardhu ‘ain, karena seandainya hanya sunnah tentu tidak mengancam peninggalnya dengan pembakaran tersebut. Juga tidak mungkin terjadi pada peninggal fardhu kifayah seperti pensyariatan memerangi orang-orang yang meninggalkan fardhu kifayah”[19]. Demikian juga Ibnu Daqiqil’Ied menyatakan: “Ulama yang berpendapat bahwa shalat jamah hukumnya fardhu ‘ain berhujah dengan hadits ini, karena jika dikatakan fardhu kifayah, kewajiban itu dilaksanakan oleh Rasulullah dan orang yang bersamanya dan jika dikatakan sunnah, tentunya tidaklah dibunuh peninggal sunnah. Dengan demikian jelaslah shalat jamaah hukumnya fardhu ‘ain”.[20]
    Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
    Artinya: “Seorang buta mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan berkata: “wahai Rasulullah aku tidak mempunyai seorang yang menuntunku ke masjid”. Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sehingga boleh shalat dirumah. Lalu beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan nabi n langsung Rasulullah memanggilnya dan bertyanya: “apakah anda mendengar panggilan adzan shalat? Dia menjawab: “ya”. Lalu beliau berkata: “penuhilah!”“.[21]
    Ibnu Qudamah berkata setelah menyampaikan hujahnya dengan hadits ini: “Jika orang buta yang tidak memiliki orang yang mengantarnya tidak diberi keringanan, maka selainnya lebih lagi”[22]
    Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :
    Artinya: “Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali setan akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian” . [23]
    Nash-nash ini menunjukkan kewajiban shalat berjama’ah. Pendapat ini dirajihkan oleh Lajnah Daimah lil Buhuts Wal Ifta’ (komite tetap untuk riset dan fatwa Saudi Arabia) [24] dan Syaikh Prof. DR. Sholeh bin Ghanim As Sadlaan dalam kitabnya “Shalatul Jama’ah“ [25] serta sejumlah ulama lainnya. Wallahu a’lam
    ***
    Footnote:
    1. Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, kitab Thaharoh Wa Sunanuha, bab Al Muhafadzah Alal Wudhu No. 253, Ahmad dalam Musnad-nya No. 21400 dan 21344 dan Ad Darimi dalam Sunan-nya, kitab Thaharah, bab Ma Ja’a fith Thuhur No.653.
    2. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab Al Iman bir Rasulillah Shallallahu’alaihi Wasallam no. 3541 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 21054, At Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih”.
    3. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Jami’-nya (Sunan-nya), kitab Iman Bir Rasulillah N Bab Ma Ja’a Fi Tarki Shalat no. 2545 dan An Nasa’I dalam Sunan-nya kitab Shalat, bab Al Hukmu Fi Taarikis Shalat no. 459. dengan sanad yang shahih.
    4. Dinukil oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 22/40.
    5. Fathul Baari 2/26.
    6. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat, bab At Tasydiid Fi Tarkil Jama‘ah no.460, An Nasa’i dalam Sunan-nya, kitab Al Imaamah, bab At Tasydiid Fi Tarkil Jama’ah no.738 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 26242.
    7. Lihat penukilan Abu Dawud setelah menyampaikan hadits di atas.
    8. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Adzaan, Bab Al Adzaan Lil Musaafir Idza Kaanu Jama’atan Wal Iqamah Kadzaalik no. 595 dan Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid Wa Mawaadhi’ Ash Shalat, bab Man Ahaqu Bil Imamah no. 1080.
    9. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al Adzaan, Bab Fadhlu Shalatul Jama’ah no. 609.
    10. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Al Masaajid Wal Jama’ah, bab At Taghlidz Fi Attakhalluf ‘Anil Jama’ah no. 785. hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shahih sunan Ibni Maajah no. 631.
    11. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al Adzaan, bab Wujubu Shalatil Jama’ah no. 608 dan Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid Wa Mawaadhi’ shalat, bab Fadhlu Shalatil Jamaah Wa Bayaani Attasydiid Fit Takhalluf ‘Anha no. 1041.
    12. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid Wa Mawaadhi’ Shalat, bab Yajibu Ityanul Masjid ‘Ala Man Sami’a Annida’ no. 1044.
    13. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al Adzaan, Bab Fadhlu Shalatul Jama’ah no. 609.
    14. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid Wa Mawaadhi’ Shalat, bab Fadhlu Katsrotil Khutha Ilal Masaajid, no.1064.
    15. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya no. 11380.
    16. Raudhatun Nadiyah Syarah Durarul Bahiyah 1/306.
    17. Fiqhus Sunnah 1/248
    18. Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shohihnya kitab Al Adzaan, bab Wujubu Shalatil Jama’ah no. 608 dan Muslim dalam Shohih-nya kitab Al Masaajid Wa Mawaadhi’ Shalat, bab Fadhlu Shalatil Jamaah Wa Bayaani Attasydiid Fit Takhalluf ‘Anha no. 1041.
    19. Fathul Baari 2/125
    20. Ihkamul Ahkaam 1/124.
    21. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid Wa Mawaadhi’ Shalat, bab Yajibu Ityanul Masjid ‘Ala Man Sami’a Annida’ no. 1044.
    22. Al Mughni 3/6.
    23. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat, bab At Tasydiid Fi Tarkil Jamaah no.460, An Nasa’I dalam Sunan-nya, kitab Al Imaamah, bab At Tasydiid Fi Tarkil Jama’ah no.738 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 26242.
    24. Fatawa Lajnah Daimah 7/283.
    25. Shalatul Jama’ah, Hal. 72

  19. Alhamdulillah. Terima kasih akhi, atas tambahannya. Jazakallah khair.

  20. solat adalah tiangnya agama, jangan karena ada satu perkara kita lalai akan solat.

  21. Baginda Rosululloh akan mengumpulkan kayu bakar untuk membakar umat dan rumahnya yang tidak sholat berjama’ah……! kalau dirasakan dengan hati yang emosional tanpa keihlasan hal ini terkesan bahwa Rosululloh bengis, sadis dan kejam….tapi saudaraku ini adalah sebuah bukti betapa Rosulullaoh begitu dalam menyayangi umatnya hingga tidak rela kalau umatnya kelak dibakar dengan api neraka (Api didunia cuma sepersekian ribu api neraka. Subhanalloh…..ustadz telah menyampaikan tauziah dengan ilmu antum yang begitu luas sehingga insya Alloh pembaca bisa merenung dan sami’na wa atoqna, balasan pahala yang berlimpah dan kemuliaan yang tinggi semoga Alloh karuniakan bagi antum ya ustadz al kariem.

  22. assalamualaikum,wr, wb
    mohon redaksi hadistnya juga dicantumkan, untuk memperkuat keyakinan!!!
    syukron koblah
    wassalam

  23. Ustadz, bolehkah saya meng-copy tulisan di atas?

Leave a Reply

Your email address will not be published.