Aswaja, Doxyz dan Bahaya Golongan Tiga

jangan melarang bisnis penerbitan buku agamaAnda boleh mengabaikan artikel saya yang lain, tapi khusus untuk artikel ini: Anda Wajib Baca Tuntas! Inilah artikel yang dapat membuka inspirasi dua keuntungan, dan benteng bagi anda agar tidak memasuki “Golongan Tiga”.  Berbahagialah….

Aswaja vs Doxyz
Coba anda kunjungi penerbit Aswaja, lalu anda longok penerbit Doxyz (bukan nama sebenarnya). Anda amati, apa persamaan dan perbedaannya? Anda akan menemukan bahwa keduanya sama-sama menggeluti bisnis penerbitan buku. Sebagaimana bisnis lainnya, mereka mengejar keuntungan agar bisa survive untuk menghidupi seluruh karyawan dan pemilik modal. Inilah ciri utama bisnis, harus untung. Saya yakin jika tiap bulan Aswaja merugi, pasti bisnis bukunya sudah gulung tikar.

Beda yang paling serius adalah, Doxyz menerbitkan buku-buku cabul yang merusak akhlak, sedangkan Aswaja menerbitkan buku-buku agama yang berkualitas dan mencerahkan.

Pertanyaan untuk anda
1. Anda lebih suka beli buku-buku Aswaja atau Doxyz?
2. Jika anda jadi produsen: Anda akan terbitkan buku cabul atau buku akhlak?
Saya yakin anda semua akan menjawab lebih suka buku-buku terbitan Aswaja! Kecuali jika anda sedang sedikit sableng, tentu Doxyz menjadi konsumsi anda. Terus, kalau anda mau terjun ke bisnis penerbitan buku, tentu anda tidak akan menerbitkan buku-buku hitam seperti Doxys. Iya, kan?

Jika “Ya” adalah jawaban anda, saya angkat dua jempol untuk anda. Mari kita ramai-ramai angkat jempol juga untuk penerbit Aswaja yang telah menentukan pilihan menerbitkan buku-buku agama! Insya_allah Aswaja tidak hanya mengantongi keuntungan materi, tapi juga keuntungan spiritual karena telah berdakwah lewat buku-buku agama yang diterbitkannya. Inilah yang disebut dengan “Bisnis sambil berdakwah.”

Menerbitkan atau menjual buku adalah jenis kegiatan bisnis. Ciri utama bisnis adalah mencari keuntungan. Anda tidak mau menjalankan bisnis yang rugi, bukan? Namun masalahnya menjadi lain jika buku yang anda jual adalah buku cabul. Itu namanya Bisnis Beracun dan Berbahaya (B3). Sebaliknya, jika yang anda terbitkan adalah buku-buku agama, pasti sangat bermanfaat.  Manakah yang anda pilih?

Salut untuk Aswaja, Toha Putra dll yang telah menentukan line bisnisnya di bidang penerbitan buku-buku dakwah. Selamat berbisnis dan berdakwah, kawan…

Itulah mengapa, produk dan service IMTRA Training Center Indonesia yang kami kelola kebanyakan bernafaskan Islam. Nafas yang bermuatan dakwah, mengajak kebajikan.

Golongan Tiga
Kelompok konsumen dan produsen seperti Aswaja dll saya sebut sebagai Gologan 1. Golongan 2 adalah konsumen dan produsen Doxyz dan komplotannya. Golongan tiganya adalah orang-orang yang “Suka Tapi Tidak Suka”. Mereka SUKA mengkonsumsi produk-produk Islami, seperti membaca buku-buku agama, CD Tarbiyah, ebook Islam, pelatihan dan pendidikan Islam dll, tapi mereka TIDAK SUKA memberi dukungan yang memadai pada produsen yang berjuang menyediakan produk-produk Islami tersebut. Lebih parah lagi, sebagian golongan 3 ini bahkan ada yang mengecam eksistensi produsen produk-produk Islami.

Tujuan ditulisnya artikel ini adalah untuk menyadarkan golongan tiga agar mau beralih ke golongan satu. Sebab saya yakin, golongan tiga ini muncul karena mereka belum mendapat penjelasan yang diperlukan.

Beberapa ciri khas golongan tiga adalah:
– Belajar agama penginnya gratis, tapi kursus bahasa Inggris berani bayar mahal
– Ebook agama penginnya gratis, ebook lainnya sih terserah saja
– Ngundang ustadz penginnya gratis, untuk Ayu Ting Ting berani 20 jt/lagu

Saya pernah melihat ustadz yang banting stir menjadi pedagang telor! Tadinya beliau mengajarkan pendidikan agama Islam untuk anak-anak di masjid komplek perumahan orang-orang kaya. Sayangnya, orang-orang kaya di kompleks itu mayoritas “Golongan Tiga” yang punya ciri khas ingin gratis dalam belajar agama, atau bayar “seikhlasnya saja”.  Jadi, ya…. gitu dech terpaksa ustadz meninggalkan para santrinya karena ingin hidup layak seperti anda.

Sementara itu, Ust. Dr. Ibdalsyah, MA dari Universitas Ibnu Khaldun Bogor pernah mengadakan uji tentang “Kemampuan Mahasiswa untuk Mengartikan Bacaan Shalat”. Hasilnya sangat mencengangkan! Ternyata mahasiswa yang mampu mengartikan bacaan shalat dari awal hingga akhir hanya 10%.  Jadi, 90% nggak mudeng bahasa shalat, Pak!

Melihat hasil tersebut, jangan-jangan (maaf) kita pun sebagian ada yang tidak mampu mengartikan bacaan shalat kata demi kata, dari awal hingga akhir. Coba tes diri kita masing-masing!

Mengapa banyak orang shalat tapi tidak mengetahui arti bacaan shalat? Saya rasa yang paling bertanggung jawab adalah Golongan Tiga! Saya tidak mengatakan bahwa anda yang tidak memahami bacaan shalat adalah golongan tiga, tapi mungkin anda hanya terpengaruh mereka saja. Golongan tiga berani bayar mahal untuk kursus bahasa Inggris. Mereka rela menggelontorkan ratusan ribu per bulan untuk kemahiran bahasa Inggrisnya. Tapi giliran untuk belajar shalat, buku/ebook shalat yang amat murah dan cuman sekali beli saja mereka pada protes.

Generasi muda saat ini penginnya jadi artis, pemain sepak bola, jendral, kepala daerah, wakil rakyat, pengusaha, manager. Yang pengin jadi ustadz? Hm… kayong mboten wonten, gak ada tuch!  Kenapa? Ya, karena ulah sampeyan sendiri, khususnya golongan 3 yang lebih menghargai artis ndangdut ketimbang ustadz.

Golongan tiga selain tidak mendukung lahirnya ustadz-ustadz yang berkualitas, juga membuat yang sudah jadi ustadz malah banting stir menjadi pedagang telor. Itu realita, Pak! Saya lihat sendiri lho…

kondisi belajar agama, buku buku agama
Kondisi madrasah akibat golongan 3
fasilitas pendidikan islam begini seharusnya
Tempat kursus, mentereng & full AC

Madrasah atapnya pada bolong, sementara tempat kursusnya mentereng dan full AC. Betul, kan? Ustadz ke madrasah naik sepeda onthel, sementara guru di tempat kursusnya bermobil mewah. Anak-anak, mahasiswa, bahkan hingga pensiunan banyak yang nggak ngerti tata cara shalat yang benar. Yah, karena menurut mereka belajar agama harus gratis, ebook agama tidak pantas dijual. Atau bayar ya seikhlasnya saja. Coba simak pernyataan mereka di bawah ini.

“Kok belajar shalat pake mbayar segala!” Kata salah seorang golongan tiga pada panitia, saat mendengar info rencana pelatihan shalat sempurna di kotanya. Lantas dijawab oleh panitia: “Lain kali bisa gratis Pak, tapi Bapak harus jadi donatur untuk beli tiket pesawat trainernya yah? Kalau mau sekalian ngasih makan siang seluruh peserta juga boleh!”

Tanggapan saya: he he … panitianya cerdas!

Di lain tempat dan waktu, ada juga yang bilang: “Mengapa agama kok dikomersilkan?” Pertanyaan senada: “Agama kok dijualbelikan?”

Tanggapan saya antara lain adalah:

  • Anda pernah ke toko buku Wali Songo? Di sana banyak jual buku-buku tentang shalat, zakat, puasa, haji dll. Apakah anda juga bilang Wali Songo mengkomersilkan agama?
  • Itu bukan jual agama, tapi jual buku agama. Menjual agama dan menjual buku/ebook agama adalah dua hal yang berbeda

Ada yang nyindir:  “Apakah di jaman Rasul tata-cara shalat juga dikomersilkan?” Tanggapan saya: CD Belajar Ngaji dan semacamnya juga banyak beredar di pasaran. Bukankah CD Belajar Ngaji di jaman Rasul juga tidak dikomersilkan? Ada-ada aja… 🙂

Ada lagi yang mengatakan “Lebih baik menjual souvenir semisal tasbih dll, kemudian ebook shalatnya buat bonus saja”.  Kata seorang pedagang produk makanan kesehatan. Mungkin dia beranggapan bahwa ebook shalat tidak layak dijualbelikan.

Tanggapan saya: Jika ditinjau dari segi kualitas, insya_allah ebook Trilogi Shalat Sempurna sangat layak jual. Ditinjau dari segi jenis, kami malah lebih suka menjual jenis produk Islami ketimbang produk jenis makanan kesehatan, kosmetik dsb. Jelasnya, kami lebih memilih bisnis ala Aswaja ketimbang bisnis MLM yang jual makanan kesehatan.

Ada lagi yang mengatakan “Harus ikhlas pak, tidak usah mengharap imbalan”
Terhadap pernyataan ini, kami ingin balik bertanya:
1. Anda memberi pelajaran Kimia, atau bekerja di kantor ikhlas apa tidak sih?
2. Lalu, akhir bulan anda mengharap gaji apa tidak?

Nah, jika menurut anda ikhlas adalah tidak boleh mengharap imbalan, maka semestinya anda pun tidak boleh mengharapkan gaji dari pekerjaan anda itu.

Menurut saya, konsep ikhlas itu bukan berarti tidak boleh mengharap. Kita boleh mengharap hasil dari yang kita kerjakan, asal harapan kita bukanlah harapan yang tercela atau harapan yang melanggar hukum. Setuju?!

Golongan tiga lainnya berkata:
“Kalau mau dakwah, ya dakwah saja… nggak usah jualan”
Tanggapan saya: Justru itulah yang paling ideal: berbisnis dan berdakwah sekaligus! Kami punya produk ebook “Rahasia Bisnis Online”. Tapi kami merasa jualan produk ini kurang memuaskan, karena yang didapatkan hanya uang saja. Kami lebih suka menjual ebook: Trilogi Shalat Sempurna, Mutiara Sempurna, Teknik Presentasi Menarik dan Stiker Islami yang semuanya bermuatan dakwah. Itulah yang kami sebut dengan bisnis ala Aswaja bisnis sambil berdakwah. Uang dapat, kewajiban dakwahnya juga terpenuhi. Mantap, kan?

fasilitas pendidikan agama memprihatinkan
Akibat pengin gratis untuk pendidikan agama
minimnya pendidikan agama islam
Mahir bahasa Inggris, tapi tidak mudeng bahasa shalat

Sekali lagi… Golongan tiga selain tidak mendukung lahirnya ustadz-ustadz yang berkualitas, juga membuat yang sudah jadi ustadz malah banting stir menjadi pedagang telor atau profesi seperti anda. Kondisi Madrasah yang sangat memprihatinkan ini juga akibat ngawurnya prinsip golongan tiga yang selalu ingin gratis untuk pendidikan agama. Sementara tempat-tempat kursus pada mentereng dan ber-AC. Ustadz ke madrasah naik sepeda onthel, sementara guru di tempat kursusnya bermobil mewah. Anak-anak, mahasiswa, bahkan hingga pensiunan banyak yang nggak ngerti tata cara shalat yang benar. Nggak paham arti bacaan shalat. Yah, karena menurut mereka (Golongan Tiga) belajar agama harus gratis, ebook agama tidak pantas dijual. Atau bayar seikhlasnya saja.  Akibatnya… anda bisa lihat sendiri: kondisi madrasah banyak yang minus, 90% nggak mudeng bahasa shalat, dan banyak ustadz yang meninggalkan santrinya (lebih memilih jualan telor) karena ingin hidup layak seperti anda…

Dengan paparan ini, semoga para golongan tiga telah mendapatkan jawaban yang mereka perlukan. Mari sama-sama kita dukung pemikiran golongan satu dan hasil karyanya.

Saran untuk Seluruh Pembaca
Jika anda ingin berbisnis, pilihlah yang bermuatan dakwah seperti yang dilakukan Aswaja dan Imtra. Pilihan bijak ini akan memberikan dua keuntungan: keuntungan material dan spiritual. Ayo berbisnis dan berdakwah. Jangan gubris orang-orang golongan tiga itu.

Penting untuk Anda Lakukan:
Jika anda merasa bukan golongan tiga, anda harus share artikel ini ke teman anda sekarang…

***
keyword: penerbit buku-buku agama, bisnis buku, buku akhlak produk imtra training center indonesia, teknik presentasi menarik shalat sempurna training center, bisnis online stiker islami cd belajar ngaji

SILAKAN SHARE...
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


public speaking

18 Replies to “Aswaja, Doxyz dan Bahaya Golongan Tiga”

  1. mizan itu salah satu penerbit yang bermazhab syiah ya? mudah2n bukan syiah rafidoh

  2. Wallahu a’lam. Beberapa koleksi buku Mizan yang kami miliki bagus, dan netral.

  3. saya suka dengan kata2 “Bisnis sambil berdakwah”. terimakasih ustadz atas share artikelnya

  4. Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari keterjerumusan dalam KEMUNAFIKAN golongan 3 ini. Ini memang masalah serius yang mesti diinsafi bersama sesama muslim (itu jika kita umat Islam ingin menjadi umat yang maju dan berkualitas).

    Saya rasa bahaya golongan 3 ini tidak hanya dalam urusan bisnis saja, tetapi dalam banyak hal lain. Perlu ada bahasan dan aksi lanjutan untuk menyadarkan golongan ini. (Untuk semantara sekian dulu Pak Ustad).

  5. Semoga dengan ditulisnya artikel ini, dapat mengurangi jumlah ustadz yang bermigrasi menjadi pedagang telor dan semacamnya. Karena itu, partisipasi anda untuk share artikel ini sangat kami harapkan.

  6. Ya, jika tidak mampu atau enggan membuat produk (bisnis) yang mencerahkan ummat, silakan bisnis yang netral saja. Jangan sampai terjerumus ke bisnis beracun dan berbahaya (B3).

  7. Terima kasih ustadz, ebook agama nya sama dengan apa yang sedang kami jalani pengajian rutin di majelis ta’lim Ar-Rohman, dan terima kasih artikel-artikelnya smoga menjadi pencerahan sepanjang masa, amin

  8. Terima kasih ustadz atas pencerahannya. Untuk mengingatkan dari golong 3 ini, tidak mudah. Karena merasa ta’lim hanya diperlukan untuk orang yang bodoh, bukan suatu kewajiban sebagai umat muslim seperti sabda Rasul. semoga artikel ini bisa memberi penerangan jalan si pembaca. Amin.

    Salam
    Ali Masykur

  9. Assalamu alaikum wr wb,
    Kalo saya menyukai apa yang telah dilakukan … dan Imtra, Bisnis sambil Berdakwah, untung di dunia dan akhirat.
    terima kasih pak Ustadz atas artikelnya

    Salam
    Syafril Yazid Bustami

  10. Yah, semoga kita terlindung dari golongan 3. Mudah2an kita bisa menjadi golongan 1 yang sempurna, karena tekun menjalankan sholat sempurna.

    Salam,
    Prigas

  11. Bisinis Sambil Berdagang , Inilah suatu langka menuju kesempurnaan Iman. Jadilah manuasia yang selalu bermanfaat untk Agama, Bangsa dan Negara. Amin

    Wasalam,

    Djamal Gorantokan

  12. Asslamua’alaikum..
    Artikel yg sangat menggugah hati pak ustadh. Saya mohon info buku yang berjudul Qolbun Qur’an, saya tidak tahu penulisnya, terima kasih sebelumnya, Wassalam…

  13. anda cerdas ustadz dan punya kelebihan yg tidak kami miliki, mestinya kamipun yg ‘belum’ mendapat rizki ilmu seperti anda namun oleh Allah ditakdirkan menjadi karyawan dlsb tinggal ‘memetik’ saja buah ilmu yg telah anda tanam.
    Ironisnya hanya sedikit ‘karyawan’ yg sadar bahwa tidak seberapanya harga yg dibelanjakan untuk memperoleh ilmu tersebut insya Allah bisa menuai kaya raya yg tak mampu mereka hitung, bahkan Rasulullah menyebutkan ‘lebih baik dari pada dunia dan seisinya…’.
    Semua pasti setuju bahwa ilmu itu tidak akan datang dg sendirinya, harus dicari dan tentunya perlu sarana dan pengorbanan…

  14. Wa alaikum salam wr wb.
    Maaf, saya coba cari2 info yang anda butuhkan tapi belum ketemu.

  15. Kimia Kebahagiaan, Al Ghazali
    Thariqah Menuju Kebahagiaan, Abdullah bin Alwi
    Bidayatul Hidayah, Al Ghazali
    Misykat Cahaya Cahaya, Al Ghazali

  16. Assalamu’alaikum. Terimakasih Ustadz atas nasihatnya.
    Saya termenung, mungkin saya termasuk 90% dari orang yang tidak memahami arti bacaan sholat dari awal sd akhir. Insya Allah saya ingin belajar lebih giat lagi dan bersama anak-anak saya utk terus mendalami ilmu sholat ini. Doakan agar kita dapat selamat dunia akhirat. Aamiieen. Terimakasih atas pencerahannya. Wassalam.

  17. Ustadz, saya punya contoh bagus tentang jual buku/ebook yang saya pikir caranya sangat bagus. Bapak Muhammad Noer (muhammadnoer.com) menawarkan bukunya yang secara umum tema nya tentang pengembangan diri dengan dua cara :

    1. Diterbitkan dan dijual dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh Gramedia, namun
    2. Beliau juga tetap membuka link download gratis atas buku yang sama dalam bentuk eebok di website pribadinya (muhammadnoer.com). Dan tentu saja atas ijin dan kesepakatan dengan Gramedia.

    Mengapa saya anggap sangat bagus? karena ilmu yang ditawarkan oleh beliau bisa menjangkau siapa saja, baik yang mampu secara ekonomi maupun yang tidak mampu. Adapun keputusan untuk membeli atau mendownload sepenuhnya diserahkan kepada konsumen.

    Menurut saya ini benar-benar menunjukkan keikhlasan beliau.

    Jadi menurut saya, ustadz juga jangan menyalahkan orang-orang atau pihak yang tulus membagikan karya bermanfaatnya secara gratis. Masalah keikhlasan biarlah Allah SWT yang menilai.

  18. Terima kasih atas masukan Bapak. Kami juga memiliki dua macam produk, yang gratis dan berbayar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.