Menyikapi Hadits Ramadhan yang (Katanya) Dhaif

Semangat Menyambut RamadhanMenjelang Ramadhan, banyak di antara kita yang share tentang hadits-hadits Ramadhan. Mereka menggunakan jejaring sosial, blog, milis atau email pribadi untuk membagi ilmunya. Praktis, menjelang bulan suci ini banyak beredar hadits-hadits tentang Ramadhan. Ini sangat positif, karena dalam menyambut Ramadhan sudah sepatutnya kita saling mengingatkan tentang keistimewaan bulan ramadhan untuk memberi semangat.

Salah satu email yang pernah saya terima menjelang Ramadhan adalah tentang hadits-hadits Ramadhan yang dhaif. Anda pernah dapat email semacam ini? Atau mungkin anda pernah memforwardnya ke teman-teman anda?

Salah satu hadits yang dinyatakan dhaif dalam email yang beredar adalah:

“Barangsiapa ingin mendekatkan dirinya kepada Allah di bulan ini dengan suatu amalan sunnah,  maka pahalanya seolah-olah dia melakukan satu amalan fardhu pada bulan-bulan yang lain. Dan barangsiapa melakukan satu amalan fardhu pada bulan ini, maka ia akan dibalas dengan pahala seolah-olah telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan yang lain.” (HR Ibnu Khuzaimah)

Dari komentar-komentar yang ada, saya melihat 2 hal:
1. Pembaca merasa kecewa
2. Semangat “tempur”nya seperti mengendor

Betulkah hadits Ramadhan tersebut di atas dhaif?
Seperti nada komentar-komentar yang saya gambarkan di atas, mungkin anda juga pernah kecewa saat anda mendapatkan email tentang dhaifnya hadits Ramadhan tersebut. Betul? Karena hadits tersebut selama ini sering digembar-gemborkan oleh para da’i. Tapi betulkah hadits Ramadhan tersebut dhaif?

Salah satu alasan yang menyebabkan hadits berderajat dhaif (lemah) adalah karena kualitas sanadnya (orang-orang yang meriwayatkan hingga tersambung sampai Rasul) dianggap lemah. Sementara itu, pendapat tentang kualitas sanad bisa berbeda dari ahli hadits yang satu dengan lainnya. Karena itulah bisa jadi sebuah hadits dikatakan shahih oleh seorang ahli hadits, tapi dikatakan lemah oleh ahli hadits lainnya. Contoh konkretnya adalah hadits Ramadhan tersebut di atas!

Tersebut dalam “Fadhail Amal” karya Syekh Maulana Zakaria, bahwa hadits tersebut terdapat dalam shahih Ibnu Khuzaimah. Dengan demikian menurut Ibnu Khuzaimah hadits tersebut dianggap shahih.

Mana yang harus kita pilih: pendapat Ibnu Khuzaimah yang mengatakan “shahih” atau pendapat lain (seperti beredar dalam email) yang mengatakan dhaif?

Jangan bingung! Justeru saya ingin membuat anda makin rileks dan lebih nyaman. Saran saya, anda nggak usah pikir pusing tentang derajat hadits ini. Hormati saja perbedaan pendapat tersebut. Bagi yang manut pada Imam Ibnu Khuzaimah, silakan…. Atau mau percaya pada email, juga monggo. Satu hal yang mesti sama adalah, kalau memang isinya memotivasi, kita harus ambil hikmahnya dengan “Semangat!”

Nah, sekarang lebih terasa nyaman bukan? Dengan demikian kekecewaan anda lenyap sudah, dan anda tidak lagi bingung…. Alhamdulillah. Sekali lagi, ambil hikmahnya saja: “Semangat!”

Just info, Imam Nawawi (penulis kitab Riyadushalihin) membolehkan beramal dengan hadits dhaif sebatas memetik hikmahnya untuk memotivasi. Yang harus menggunakan hadits shahih adalah hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan tata cara ibadah.

Merujuk pada pendapat Imam Nawawi di atas, maka khusus untuk hadits-hadits motivasi sebaiknya kita easy charging saja.. Seringkali motivasi seseorang akan “tertunda” karena harus tanya sana-sini dulu tentang derajat haditsnya. Dia pasti ketinggalan kereta, sementara orang lain sudah melesat dengan “Semangat!” karena motivasinya yang mudah dicas (easy charging).

Solusi Rileks dan Easy Charging
Jika anda menerima email opini tentang hadits Ramadhan yang dhaif, khususnya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah seperti tersebut di atas, anda reply email tersebut dan sarankan untuk membaca artikel ini agar semangat mereka tidak mengendor, lebih rileks dan nyaman.

Anda juga perlu share artikel ini ke sahabat dan kerabat anda dengan klik icon-icon di bawah ini, untuk menumbuhkan semangat menghormati perbedaan dan easy charging motivation

Selamat menyambut bulan suci Ramadhan… Semangat!

Untuk input kami, jika anda suka artikel ini : Klik 'Like'
Dan jika ingin ikut berbagi ke teman : Klik t / f / M

37 thoughts on “Menyikapi Hadits Ramadhan yang (Katanya) Dhaif

  1. Zulkarnain Al Idrus

    Saudaraku Ahmad Tefur,
    Beginilah kita sebagai ummat yang tidak mengetahui secara persis duduk soal antara Al Qur’an dan Hikmah Rasul (istilah Allah dalam Al Qur’an, Al Hadiths dalam peristilahan hamba Allah). Saya memilih penyebutan Hikmah Rasul yang dipilih oleh Allah. Inilah sikap saya… dan seterusnya. Hikmah Rasul itu berfungsi sebagai penambah terang, penambah jelas dan pendukung dan penguat ayat ayat Allah / Al Qur’an.

    Oleh karena itu perlu benarlah kita selaku pengemban ummat atau sebagai ummat Islam yang diwajibkan IQRA oleh Allah, bakan sebelum Al Qur’an turun secara penuh , utuh dan menyeluruh untuk mengetahuinya. Begitu pentingnya membaca atau belajar. Karena hanya dengan membaca dan menulislah Allah menitipkan ilmuNya kepada kita si Pembaca. Sayang, sebagian besar ummat tidak atau belum gemar membaca, sehingga beginilah keadaan kita dinegeri tercinta ini. Ada saja bencana akibat durjana dan ada saja malapetaka akibat durhakanya kita kepada Allah. Namun kita tidak merasa berdosa, karena sebagian kita tidak berilmu yang memadai.Ummat menjadi ikutikutan sebagaimana pak turut manut. Ukuran kebenaran dan kebaikan menurut pendapat, perasaan dan selera sang manusia. Padahal sewajibnya, wajib menurut Allah dan RasulNya.

    Petaka besar ini, disebabkan oleh karena kebanyakan kita tidak atau belum mampu mendudukkan “Porsi Dan Proporsi” antara Kitab dan Hikmah Rasul. “Wayuallimukumul kitaaba wal hikmah” begitu pernyataan Allah dalam berbagai ayat dan surat. Al Qur’an pertama utama, Hikmah Rasul pendukung kebenaran Ayat ayat Allah. Itulah kedudukan yang sesungguhnya antara dua pedoman yang diakui oleh Allah. Sayang sekali, kebanyakan Dai kita lebih banyak dan lebih sering mengetengahkan Hikmah Rasul dan menomorduakan kitab Al Qur’an. Ini jelas kaprah salahnya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ? Dalam beberapa hal, benar bahwa tata cara dan tata tertib shalat misalnya, dapat diketahui detailnya via Hikmah Rasul. Selain hal itu, Al Qur’an salig isi mengisi, saling lengkap melengkapi, saling terang menerangkan, sehingga tidak ada yang tidak ada dalam Al Qur’an.
    Al Qur’an adalah induk dari segala kitab yang ada didunia, induk dari segala ilmu yang telah diketahui/diberitahu oleh Allah.

    Ayat ayat Allah bersifat mutlak kebenaran dan kebaikannya bagi ummat yang mampu memperaktekkannya, bersifat final tampa sebutir zarrah alasanpun. Tapi sayang, Al Qur’an lebih sering disepelekan/diremehkan karena lebih memuliakan Hikmah RasulNya.
    Inilah durjana penyebab bencana, inilah durhaka penyebab petaka !!
    Banyak keluhan Al Qur’an dalam hal ini. Satu saja yang saya tampilkan disini. Yaitu Surat Al Waqiah 81 yang isinya: “MAKA APAKAH KAMU MENGANGGAP REMEH SAJA AL QUR’AN INI? ( coba renungkan itu )

    Ummat Islam kini, hampir mirip ummat Yahudi atau Nasrani, yang lebih menuhankan Rahib dan Pendeta ketimbang Allah. Pengaruh taktik dan strategy Yahudi global benar benar membelenggu kita sebagai ummat.
    Para Dai diseantero negeri, lebih banyak dan lebih sering menyampaikan Hikmah Rasul/Al Hadiths ketimbang Al Qur’an. Bukankah ini perendahan terhadap ayat ayat Allah ??? Padahal dari Allah-lah segala Khasanah yang ada di Langit dan di Bumi.

    Pantaslah, bila Nabi sendiri melarang pembukuan Hikmah Rasul, yang ditakuti RAsul akan terjadi sebagaimana telah terjadi pada ummat ummat Nabi Musa dan Isa AS. Ingin terus mengulangi perilaku ummat yang lalu ?? Amat sedikit (sekali) yang memahami Al Qur’an menurut pemahaman yang benar menurut Allah dan RasulNya. Yang banyak adalah pemahaman yang baik menurut manusia. Padahal ukurannya dari Allah.
    Sering manusia berkata: “ini kan baik” dll dll. Yang baik menurut hamba Allah tidak selamanya baik menurut Allah. Yang pasti adalah: yang benar menurut Allah selamanya baik. Yang baik menurut manusia tidak selamanya benar. Demikian itulah kejadian demi kejadian dalam keseharian kita.

    Lebih lanjut re Hikmah Rasul/Al Hadith:
    Perlu ummat sadari bahwa kegiatan pengumpulan Hadiths itu bermula pada abad ke 3 Hijriyah, selanjutnya abad ke 4 dan ke 5 Hijriyah.
    Perhatikan masa hidup para pengumpul hadiths itu, kita mulai dari:
    1. Al Bukhari (wafat 256H/870M
    2. Muslim 261H/874M
    3.Ibnu Majah 273H/886M
    4.Abu Daud 275H/888M
    5. Al Turmudzi 279H/892M
    6. Ahmad Al Nisai 303H/916M
    7. Ahmad Al Baihaqi 384H/994M

    Perhatikanlah jarak masa sejak wafatnya Rasul Allah, antara 3 s/d 4 abad lamanya. Apakah kita semua menyadari arti jarak masa seperti itu bagi keshahihan dan kedhaifan suatu hadiths?

    Oleh karena itu, pengamalan lewat hadith tentulah bersesuaian dengan pengetahuan dan pemahaman dari setiap individu MUslim. Disinilah letak COBAAN TERBESAR DARI ALLAH KEPADA KITA. Bila kita berpengetahuan tentu lebih memuliakan Al Qur’an. Al Qur’an itu pedoman dan pelajaran bagi orang yang berakal. Jadi banyak orang yang kurang berakal telah menjadikan Al Hadith lebih mulia dari Al Qur’an.

    Sebenarnya segalanya mudah saja mencari jalan keluarnya. Sayangnya kita terbelenggu tradisi atau kebiasaan, sehingga mengalahkan akal sehat kita. Maka perhatikan apa ucapan Allah dam surat Yunus 100:
    “ALLAH MENIMPAKAN MURKA KEPADA SIAPA YANG TIDAK MEMPERGUNAKAN AKALNYA DALAM BERAGAMA”. Kita melulu mempergunakan akal sehat hanya pada dunia, pada kebutuhan dan keuntungan dunia kita semata, sehingga lupa pada keuntungan akhirat.

    Aduh, terlalu banyak komentar ini. Namun saya belum menyampaikan apa yang diamanatkan oleh Omar Bin Katthab yang pada mulanya bermaksud mengumpulkan hadith dimasanya, namun dibatalkannya karena takut ummat Islam akan seperti ummat Yahudi dan Nasrani yang bertuhankan Rahib dan Pendeta. Rahib dan Pendetanya mengalahkan Tuhan yang sebenarnya. Oleh karena itu Omar berkata kepada perutusannya yang diutus ke Iraq: “Kalian akan mendatangi suatu klompok masyarakat yang mendengungkan Al Qur’an seperti dengung lebah. Jangan ceroboh dengan pemberitaan Hadiths sebab akan mengacaukan mereka(ummat). Murnikan Al Qur’an dan sedikitkan pemberitaan Hadiths(maksudnya karena Nabi selalu menyampaian ayat-ayat al Qur’an).

    Sebagai gambaran: Abubakar Siddiq mengumpulkan 14 halaman hadiths, Omar Bin Kattab 41 halaman, namun Abu Hurairah sebanyak 313 halaman.
    Ambil pelajaran, siapa yang lebih berhaq dipegang: Khalifah atau Ulama?. Abu Salmah pernah bertanya kepada Abu Hurairah: Apakah pada zaman Omar, anda memberitakan hadiths ini dan hadiths itu? maka apa jawab Abu Hurairah: Sekiranya aku memberitakan hadiths ini dan itu pada zaman Omar, pastilah Omar akan memukulku dengan terompahnya.
    Perhatikan, betapa kurang tanggung jawabnya perihal pemberitaan hadiths. Dan sejak itu, nama Abu Hurairah sering dicatutkan namanya.
    Kenapa harus takut kepada Omar bila benar??

    Pak Ahmad, saya belum mempelajari Al Hadith secara kusus, melainkan hanya mempelajari Al Qur’an. Insya Allah setelah paham nanti, barulah bergerak mempelajari Al Hadiths secara khusus. Al Hadiths dalam pandangan saya, adalah seumpama Siti Hawa, yang diciptakan Allah dari rusuknya Nabi Adam. Siti Hawa berfungsi sebagai pendamping Adam, halnya Al Hadihs sebagai pendamping Al Qur’an.

    Perhatikanlah , mengapa Allah menempatkan ayat pertama setelah Alif Laam Miim: Al Qur’an berisikan yang pasti pasti, tidak ada yang ragu ragu, adalah Petunjuk untuk bertaqwa. (Allah mengakui Al Hadiths akan tetapi tidak menyebutkannya sebagai Pasti dan tidak ragu ragu.

    Oleh karena itu, saya mengajak Saudara saudara ku agar bergegaslah menyadari hal ini dan berlekaslah adakan perobahan perobahan sebelum
    maut menjemput.
    Ini ajarAn nomor satu dari Allah, agar MENINGGALKAN SEGALA YANG RAGU DAN MENJALANKAN SEGALA YANG BENAR DARI ALLAH.

    “Nabi juga memerintahan kita meninggalkan segala yang meragukan hati, menuju yang meyaqinkan hati. Nabi katakan, tinggalkan hadithku sekiranya berseberangan dengan Al Qur’an”.
    Ini telah menjadi pedoman saya dalam beramal. Apa saja hadiths yang berseberangan dengan Al Qur’an saya tinggalkan tampa ragu untuk Sami’na wa atho’na kepada Allah. Ini kan komitmen para Nabi???

    Contoh contoh yang meragukan dalam amal ibadah keseharian kita adalah apa yang kita selalu perselisihkan atau pertengkarkan tampa habis habisnya. Semuanya karena tidak menjalankan perintah Allah dalam ayat 2;2 itu. Ambil yang yaqin, tinggalkan yang ragu. titik !!

    Ayo, bagaimana sekarang dengan Yasinan ? tahlilan ? qunutan ? baca qur’an keras keras, berdoa usai shalat bareng-bareng keras keras ?
    dll dll dll kesemuanya ini adalah amal2 yang meragukan, yang Allah perintahkan untuk meninggalkannya.

    Sekarang Allah menjadi pengawas kita dalam hal ini, apakah lebih taat kepada Allah atau kepada Rasul Allah ? Bisakah atau mampukah akal sehat kita membedakan dan memisahkan antara tradisi dan misi Islami??

    Allah menjadi saksi diantara kita. Ya Allah, berilah rahmat kepada siapa yang ingin berkhidmat dengan ayat-ayatMu, Ya Allah turunkan laknat kepada siapa yang sengaja hati berkhianat kepada ayat-ayatmu.
    Amin Ya Allah.

    Mohon maaf lahir dan batin dunia dan akhirat saudara2ku
    Selamat Berpuasa dibulan Ramadhan, mudah2an Allah menyampaikan kita ke bulan Ramadhan.

    Salam
    ZULKARNAIN AL IDRUS
    ciputat

    Reply
      1. H.A.S. sandja

        Assalamualaikum, Wr.Wb.
        Uztad, dulu saya baca Al-Qur’an tanpa mengerti makna dan isinya, seperti berada di jalan lurus tapi gelap, nggak tahu apa yang ada dikiri dan apa yang ada dikanan.Setelah saya membaca Al-Qur’an dengan terjemahannnya, sungguh luar biasa, kecintaan untuk terus membaca kitab suci ini kian bertambah.Patutlah Al-Qur’an sebagai petunjuk, pembeda, pedoman , penerang kehidupan didunia dan ahirat.saya mohon nasihat uztad, bagaimana caranya agar ayat-ayat Al-Qur’an yang saya hafalkan tidak lekas hilang dari ingatan?
        wass.Wr.Wb

        Reply
        1. Akhmad Tefur Post author

          Wa alaikum salam wr wb. Alhamdulillah. Agar tidak hilang, perlu dibaca secara berkala. Kalau bisa, setiap hari.

          Reply
    1. hafis askolani

      benar kata manusia belum tentu benar kata ALLAH swt.
      salah kata manusia belum tentu salah kata ALLAH swt.
      Tapi orang yang merasa dirinya paling benar maka dialah yang pertama kali melakukan kesalahan. Karena kebenaran hanyalah milik ALLAH SWT.
      wallaahuua’lam

      Reply
  2. Nurdin Adam Nuh

    Ass. Mualaikum Wr.Wb. bapak Zulkarnain Al Idrus, saya ingin tahu lebih banyak tentang amal ibadah yang meragukan selain yang bapak sampaikan al. Yasinan, Tahlilan, Qunutan, baca Alquran keras2, berdoa bareng2 usai sholat. Mungkin masih adalah lagi amal ibadah yang meragukan seperti tersebut? mohon bapak sampaikan kepada kami terutama saya yang selama ini tidak tahu sama sekali. Saya sertakan Email saya : nurdin.adam@gmail.com

    Reply
  3. ahmad

    @zulkarnain
    Saya ingin menanggapi tulisan anda dibawah ini:

    “Ayo, bagaimana sekarang dengan Yasinan ? tahlilan ? qunutan ? baca qur’an keras keras, berdoa usai shalat bareng-bareng keras keras ?
    dll dll dll kesemuanya ini adalah amal2 yang meragukan, yang Allah perintahkan untuk meninggalkannya.

    seolah ga setuju malah mungkin yg melakukan kegiatan2 tsb dianggap salah/sesat, saya melihat kelompok yg setuju ini malah sibuk “mengkritik” yg melakukan kegiatan yasinan, tahlilan, qunutan, baca qur’an keras2 tapi membiarkan (tidak sibuk) mengkritik kegiatan masyarakat yang lebih berbau maksiat atau malah menjauhkan masyarakat dengan Allah SWT seperti karaokean, konser2, kegiatan2 yg “ma la ya neh” alias ga ada gunanya

    Dari dulu saya melihat umat islam seperti berada dalam perdebatan2 yang bersifat furu,alasannya mencari kebenaran, kitab-kitab rujukan itu banyak, bukan 1, 2 atau 4 5. mungkin berkontainer-kontainer jumlahnya.

    ILMU DAN AGAMA UNTUK DIAMALKAN BUKAN UNTUK DIPERDEBATKAN MARI KITA SALING HARGA MENGHARGAI,

    ga ada kerjaan lain apa ?

    Reply
  4. Zulkarnain Al Idrus

    Ahmad,
    Adalah nama yang baik, tercantum dalam Surat Ash Shaff no.6 …..”yakti mim bakdis muhu ahmad”… yang namanya Ahmad. Ayah bunda saudara tentu menginginkan agar kelak anaknya dapat meneladani sifat2 mulia dan terpuji seperti Nabi. Pernah seorang sahabat bertanya pada Ibunda Mukminin Aisyah tentang ahlak Rasulullah. Jawabnya adalah Al Qur’an cerminan ahlaknya. Bukan main. Jadi, bercerminlah pada Al Qur’an tentang segala perilaku hidup yang berkenan disisi Allah.
    Misalnya: Sdra Ahmad Tefur memilih mengatakan terima kasih. Itu contoh seorang Ulama yang memilih diam dari pada berbicara – kalau kalau tidak bersesuaian dengan -katakanlah- dengan pendapat Allah & RasulNya. Itulah Ciri khas utama seorang yang berfaham itu. Yaitu, enggan menyertakan pendapat/perasaan/selera pribadinya dalam berargumentasi soal soal agama. Ini taboo besar dalam agama !!

    Saya ingatkan akan ayat berikut ini, kiranya berkenan memahami:
    “DAN KAMI JADIKAN SEBAGIAN KAMU COBAAN BAGI SEBAGIAN LAINNYA. MAUKAH KAMU BERSABAR?? DAN ADALAH TUHANMU MAHA MELIHAT (KEADAANMU).
    Al Furqon 20.

    Hidup seorang hamba Allah tidak hanya mencari kesenangan hidup, tapi justru berhadapan dengan cobaan disegala lini kehidupan. Itulah sebabnya Allah memintakan kesabaran setiap hambaNya dalam berkomunikasi atau bersilaturahmi sesama hamba Allah. Sabar itu Surga. Sabar itu tidak menyertakan hawa nafsu pribadi dalam persoalan agama. Al Qur’an turun, sebagian besar misinya adalah membasmi kebiasaan manusia/masyarakat yang membentuk tradisi-tradisi yang tidak Islami. Walaupun ada juga satu dua yang diambil oleh Islam, misalnya berlari dari Shafa ke Marwa dllnya.

    Saudara Ahmad, Terimalah nasehat saya karena Allah. Laksanakanlah perintah Allah yang diturunkanNya PALING PERTAMA, yaitu Iqra, artinya Baca atau Belajar. Ini perintah Allah, yang berarti beribadah. Dengan membaca, pasti Allah berkenan memberikan lmuNya, dan pasti kita dapat mengetahui yang baik dari yang buruk, yang benar dari yang salah, dan yang lurus dari yang bengkok dll dll dll.

    Coba baca Al Maidah no.3, yang menyatakan sbb: “PADA HARI INI TELAH KUSEMPURNAKAN UNTUK KAMU AGAMAMU, DAN TELAH KUCUKUPKAN NIKMATKU PADAMU, DAN TELAH KURIDAI ISLAM ITU JADI AGAMA BAGIMU”.

    Pergunakanlah akal sehat dalam menanggapi ayat Allah diatas: yaitu
    a. Agama Islam telah sempurna. Oleh karena itu jangan coba coba menambah nambah atau mengurang ngurangi kesempurnaannya. Itu akan melukai perasaan Allah. DIA kan pencipta Langit dan Bumi dengan segala Isinya, termasuk mahluk mahluk seperti kita ini. Tata tertib, tata cara atau tata laksana telah ditentukan oleh Allah, dan Rasul menyampaikannya. Kewajiban setiap Muslimlah untuk mengetahui apa apa yang asli dari Allah dan RasulNya. Kewajiban kitalah untuk mengetahui
    mana diantara ajaran Allah yang telah cemar dengan kebiasaan/tradisi manusia. Ulama (siapapun orangnya) baik karismatik atau fantastik dll
    hanyalah manusia biasa saja. Ia tidak dijaga lisan dan langkahnya oleh Allah, kecuali hanya pada para Nabi. Kritislah terhadap mereka, jangan takluk pada taklid ! Ikutikutan itu larangan besar Allah !!

    b. Islam telah diridai. artinya carilah keridaan Allah dalam beribadah, yang sesuai dengan tata tertib yang telah diaturNya. Kalau tidak sesuai, tentu saja Allah tidak akan Ridha. Begitu!

    Saya memaafkan saudara, jadi tidak usah minta maaf. Pekerjaan saya hanya membaca dan menulis. Mengikuti kata nabi, belajar dari bayi sampai ke liang lahat.

    Mudah2an saudara mendapat petunjuk dari Allah, yang bila tidak, saudara tidak akan faham, walaupun bukti bukti Al Qur’an bertaburan disekeliling saudara.

    Salam
    Zulkarnain Al Idrus

    Reply
  5. ahmad

    aku merasa kuatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan, dimana keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tak berbekas dalam perbuatan…
    banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman…
    ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu’ namun sibuk dalam kesendirian..
    ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis…
    ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi…
    ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan…
    ada yang menangis karena kufur nikmat…
    ada yang murah senyum tapi hatinya pengumpat, dan…
    ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut…
    ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan, dan…
    ada yang kufur tampil menjadi figur…
    ada orang punya ilmu tapi tak paham…
    ada yang paham tapi tak menjalankan…
    ada yang pintar tapi membodohi…
    ada yang bodoh tak tahu diri…
    ada orang beragama tapi tak berahlak tapi tak bertuhan…
    lalu di antara semua itu dimana aku berada…???
    (Ali bin Abi Thalib)…

    Saya pribadi tak sepintar, tak setekun anda. Terima kasih atas doanya agar saya mendapat hidayah dan taufik, doa yang sama untuk anda. Faidza khotobahul jahilun koluu salamaa. Mohon maaf lahir bathin

    Wassalam

    Reply
  6. imronw

    Subhanallah, hanya Engkau yang Maha benar, hamba-Mu ini hanyalah mahluk ciptaan-Mu dg segala ke-dhoif-annya… Beruntunglah orang2 yg hidup dizaman Rasulullah, mendapat hidayah dan ditakdirkan menjadi para sahabat Nabi, merekalah ummat terbaik. setelah itu para tabiin, tabiut-tabiin, salafusshalih dan para alim ulama kaum shalihin selanjutnya.
    Menurut tarikh, penyimpangan akidah atau pembenaran keyakinan diri sendiri sudah ada sejak jaman Musailamah (al-khadzab), sangat mungkin melebar pada abad ke2,3,4… sehingga muncullah 4 imam madzab (semoga Allah meridhai mereka, Amin), beliau adalah para cerdik pandai yg diyakini tingkat ke-shalihannya jauh diatas kita yg awam dan hanya pandai masalah duniawi, namnun dg kearifannya merekapun berfatwa… “Hadits yg shahih adalah madzabku, Jangan ikuti hujjahku sekiranya engkau menemukan itu menyimpang dengan sunnah Rasulullah” dll. Dus, setelah itu atas izin Allah bermunculanlah para imam besar (radhiyallahu anhum) dengan Maha Karyanya kitab2 fiqih yang dipakai sebagai rujukan dan pedoman ummat Islam seluruh dunia untuk meyakini aqidah yang lurus sesuai yang diajarkan dan dicontohkan oleh baginda Rasulullah saw.
    Jadi kesimpulannya; saya bukan ustadz atau mengajar, saya hanyalah mengajak, marilah kita beribadah kepada Allah se-mata2 mengharap ridhaNya dengan yakin dan kemantapan hati setelah mencari/menemukan dalil perintahnya yg ada dalam Al-Qur’an dan penjelasan atau uraiannya dalam Hadits sesuai yang diajarkan Rasulullah. Jadilah muslim yg cerdas, jika tidak klop benar memahami dalil Al-Qur’an carilah didalam Hadits shahih (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmidzi, Nasa’i, Ibnu Majjah dll), jika kalimatnya belum pas benar dengan ‘nalar’ anda carilah uraiannya dalam kitab2 rujukan spt Riyadhusshalihin, Fatkhul Baari’, Bulughul Murom dlsb jangan mau ter-seret2 dalam bantah berbantah mencari benar (sendiri), apalagi taklid buta. Datangilah majlis ilmu, tanyakan apa yg belum anda fahami, kejar dimana dalil perintahnya dan toleransinya sampai dimana batas tidak bolehnya… Iqro’ semoga dalam mencari ilmu kita mendapat ridha dan hidayah dariNya.
    wassalam, yg benar hanya milik Allah, kepadaNya kita berserah diri

    imron.w
    bekasi

    Reply
  7. Zulkarnain Al Idrus

    Saudara Nurdin Adam Nuh,
    Email Saudara telah berada dalam catatan, kelak disaat yang dekat akan menghubungi saudara berkenaan dengan apa yang ditanyakan. Belum apa apa saudara telah mendapat pahala yang besar, karena telah menjalankan perintah Allah dalam Surat An Nahl 43: “MAKA BERTANYALAH KEPADA ORANG YANG MEMPUNYAI PENGETAHUAN JIKA KAMU TIDAK MENGETAHUI”. Alangkah baiknya keinginan saudara itu. Allah amat senang dengan maksud tersebut.

    Keinginan tersebut tentu saja disebabkan ingin mendapatkan pengetahuan yang baik dan benar dari Allah dan RasulNya. Ajaran Allah itu sungguh amat sederhana tapi sempurna, atau boleh juga sempurna tapi sederhana. Allah maksudkan seperti agar ajaran agamaNya dapat dengan mudah dicerna oleh segala lapisan pengetahuan dan pemahaman masyarakat.
    Itulah sebabnya, agama Islam itu mudah. Atau, kalau Allah ingin memproduksi barang, maka barang itu murah, sehingga terbeli tidak saja oleh kaum konglomerat tapi juga khususnya kaum yang melarat.
    Inilah sesuatu, bagaikan lingkar luar pemahaman agama, yang bila pemahaman seperti ini telah terinstall dalam benak software kita, maka akan mudah melihat sesuatu itu, (katakanlah)dengan mata Allah, mendengar dengan telinga Allah dll dll dan seterusnya.

    Saudara, sebelum memenuhi permintaan diatas, baiklah saya kemukakan sesuatu yang mungkin bisa diterima atau belum bisa diterima? Pertama,
    mengenai panggilan BAPAK kepada saya. Saya memang berumur hampir seusia kala Nabi wafat, namun begitu tidak perlu memanggil bapak kepada sesama saudara seiman. Bukanlah saudara menginginkan sesuatu yang murni atau asli dalam pemahaman Islam? Ya tentu saja, karena pedagang soto pun mengaku-ngaku asli soto betawi, pedagang satepun mengakungaku asli sate madura dll dll termasuk pedagang onderdil dll.
    Kalau pedagang soto/sate sajapun “mengerti” benar tabiat manusia pada umumnya, yang amat suka kepada sesuatu yang asli, tentu kita selaku Muslim, seharusnya lebih lebih lagi berkeinginan untuk mengetahui atau mendapatkan ajaran yang asli, bukan begitu ??

    Disinilah letak penghargaan saya kepada saudara, yang saudara saudara kita lainnya bahkan meringan-ringankannya. Padahal murni atau asli tidaknya ajaran Allah itu seharusnya BERADA diperingkat paling atas – atau diatas segala kepentingan lainnya. Ancaman Allah keterlaluan kerasnya kepada Kaum Yahudi, yang berani beraninya mengobok-obok ayat-ayat Allah sebelum Al Qur’an, yaitu Taurat dan Injil. Oleh karena itu Allah mengancam berat pelaku penyimpangan dalam ajaran yang telah ditetapkan dan telah disempurnakan.
    dll dll dan seterusnya.

    Apa yang akan saya sampaikan berikut ini hanya sebagai info pembuka, yang saya berharap kiranya saudara dapat memahami/menerimanya. Mengenai panggilan Bapak saya lanjutkan disini.
    Sebenarnya panggilan bapak atau bapak2 atau ibu2 itu tidak ada dalam Islam, dengan kata lain itu bukan budaya Islam, melainkan budaya kafir penjajah yang telah kita tiru tampa pemeriksaan seksama.

    Kalau Allah senantiasa menyeru hambaNya dengan kata2 Ya Ayyuhannnaas,
    maka Nabi meniru ucapan Allah dengan Ayyuhannaas, artinya Saudara, atau saudara saudara. Dalil pendukung adalah:”SESUNGGUHNYA SESAMA KAUM MUKIN ITU BERSAUDARA”. Al Hujurat 10
    Kita bersaudara karena Allah telah mempersaudarakan kita, seiman kepada Allah, tidak beda si Arab hitam dan si Arab putih melainkan amalnya, begitu juga tidak beda saya dengan saudara melainkan amalnya. Ini prinsip utama dalam Islam, semua orang Islam SETARA di hadapan Allah, jadi tidak boleh ada yang merasa tinggi ataupun rendah. Adapun harta benda lebih banyak kepada sebagian kita, hanya anugerah Allah kepada mereka sebagai perangkat cobaan, bukan karena Allah memuliakan mereka. Sama sekali tidak!

    Hal ini saya tekankan terlebih dahulu, agar nyambung dengan keterangan berikut ini. Seruan Bapak2 dan Ibu2 bukan dari Islam.Ini
    berdasarkan dalil2 dari Al Qur’an sendiri. Bukankah seorang anak manusia hanya punya 1(satu) Bapak dan 1(satu) Ibu? maka, kepada bapak kandung-lah kita sewajarnya memanggil Bapak, bukan kepada lainnya walaupun umurnya lebih tua. Dalam Surat Al Ahzab no. 40, ada pernyataan Allah sbb : “MUHAMMAD ITU SEKALI KALI BUKANLAH BAPAK DARI SEORANG LAKI LAKI DIANTARA KAMU”. Jadi tidak ada sahabat yang memanggil BAPAK MUHAMMAD, TETAPI MUHAMMAD RASULULLAH. Pemanggilan bapak dalam kehidupan kita sehari hari hanyalah basa basi yang tidak Islami. Begini aslinya Islam itu. Tetapi terlalu jauh jaraknya kini, sehingga akan banyak orang yang menolaknya ketimbang menerimanya.
    Orang kaya sedunia banyaknya hanya 20%- berbanding 80% dengan yang miskin miskin, orang pintar dan bodoh sedunia juga segitu persentasenya, dll dll dll.

    Mulai hari ini panggillah saya dengan kata saudara, karena saya merasakan benar rasa persaudaraan itu.

    Demikian juga dengan Ibu. Difinisi Al Qur’an tentang Ibu: ada pada surat Al Mujadillah no. 2.: ” IBU-IBU MEREKA TIDAK LAIN HANYALAH WANITA YANG MELAHIRKAN MEREKA “. Jadi, hanya kepada perempuan yang melahirkan kita saja yang berhak kita panggil IBU, yang tidak melahirkan kita ya tentu saja bukan Ibu kita. Mereka adalah saudara saudara kita yang pada hakikatnya setara dihadapan Allah.

    Kini saya bertanya, apakah saudara Nurdin Adam Nuh SETUJU atau ACC dengan asli Islami itu?. Apakah masih mau (bila memimpin suatu Majelis)memanggil atau menyeru para hadirin dengan katakata Bapak2 dan Ibu2 ?? Ingatlah, Islam turun dengan ajakan kepada penggunaan rasio, sampai2 Allah katakan Agama hanya untuk mereka yang mau mempergunakan akalnya. Maksudnya, yang tidak mempergunakan akalnya dalam agama hanyalah orang-orang kafir di Barat sono. Mereka hanya mempergunakan akalnya sematamata mencari kepuasan duniawinya saja.
    Oleh karena itu, pergunakanlah akal kita seimbang untuk kebutuhan dunia ataupun akhirat. Yang timpang atau pincang bukan Islam !!!

    Saya sudahi sampai disini dahulu, saat magrib kian mendekat, baiknya bersiap siap.

    Demikianlah penyampaian pendahuluan saya kepada saudara. Rajinlah meminta ilmu kepada Allah, iringkanlah dengan banyak atau sering membaca Iqra Iqra Iqra.

    Salam
    ZULKARNAIN AL IDRUS
    ciputat

    Reply
  8. Jejen Jaelani

    Allah Ta’ala berfirman, yg artinya:
    Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (Q.S an-Nisaa` : 115).

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yg artinya:
    Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

    Dari artikel Kaedah Penting dalam Memahami Al Qur’an dan Hadits — Muslim.Or.Id by null

    Reply
  9. Anonymous

    Nurdin Adam Nuh:
    July 17, 2012 at 10:49 am
    Ass. Mualaikum Wr.Wb.
    Saudara Zulkarnain Al Idrus, saya juga ingin tahu lebih banyak seperti yang di tanyakan oleh saudara Nurdin Adam Nuh. ada baiknya di sampaikan seperti yang di lakukan saudara kita Akhmad Tefur, tetapi jika secara person saya sertakan Email saya : r4hm4t_kmn@yahoo.com

    Reply
  10. fajar

    “Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)

    Reply
  11. Djamal Gorantokan

    Sebenarnya masalah Hadist yang Daif itu adalah suatu ukuran bagi hamba Allah,sebagai motivasi, sepanjang informasi dari teman-teman kita tidak keluar dari koridor Islam Insya Allah akan mendapat pahala.Amin

    Reply
  12. Zulkarnain Al Idrus

    Saudara Nurdin Adam Nuh, (juga saudara Anonymous ?)
    “SESUNGGUHNYA KAMI MENURUNKAN KEPADAMU AL QUR’AN DENGAN MEMBAWA KEBENARAN. MAKA SEMBAHLAH ALLAH DENGAN MEMURNIKAN KETA’ATAN KEPADANYA. (Az Zumar 2.)
    Ayat tersebut menyatakan Allah meminta agar hambaNya memurnikan keta’atan kepadaNya. Adalah ketaatan dalam beribadah sesuai risalah yang telah ditetap kan oleh Allah. Al Qur’an sebagai panduan atau pedoman atau pelajaran. Persis seperti keadaan orang yang tidak mempunyai jam (pedoman waktu), maka ia selamanya tidak akan pernah mengetahui sang waktu dengan tepat dan akurat dan akibatnya ia meraba-raba, menduga-duga: sekarang jam sekian dan yang lain nya menyatakan jam sekian, demikianlah seterusnya hingga menimbulkan perseli sihan atau pertengkaran. Pertengkaran mana diawali karena tidak mengetahui sesuatu dengan pasti. Apa saja yang tidak kita ketahui secara pasti, maka pasti akan melahirkan argumentasi yang sering berakibat putusnya hubungan silaturahmi yang amat dijunjung tinggi oleh Al Qur’an. Oleh karena itu Allah melarang keras saling tengkar bantah membantah sesama saudara.
    Sama seperti yang saya tulisan diawal tulisan sebagai respon kepada saudara Ahmad Tefur, rahasia mengapa Allah meletakkan ayat 2.2 diawal Kitab Al Qur’an. Tidak lain sebagai peringatan dini kepada manusia, agar dalam hidup selalu mengambil yang “yaqin” dan selalu meninggalkan yang “ragu”. Misalnya ragu apakah wuduk masih ada atau sudah batal. Maka perintah agama agar meng ulangi wuduk. Begitu tidak sukanya Allah kepada apa saja yang bersifat ragu. Sangat besar risiko kehidupan mendasarkan diri dalam keraguan. Meraba-raba atau menduga-duga bukan ciri Islami. Dugaan bukan alat bukti/pembuktian. Hendaknya setiap hamba Allah senang memakai alat bukti dari ayat-ayat Allah. Karena ayat-ayat Allah bersifat FINAL, artinya yang masih membantahnya sama halnya dengan mendustakanNya. Orang2 intelectual dari Barat mendustakanNya, padahal hati mereka membenarkannya. “PADAHAL ALLAH MENGETAHUI APA YANG MEREKA SEMBUNYIKAN DALAM HATI MEREKA”. (Al Insyiqaq). Mereka adalah kaum pengidap berat kemunafikan. Kemunafikan dan kefasikan bersaudara kembar.
    Lebih lanjut, saya berkeinginan untuk menambah bukti-bukti Al Qur’an agar Saudara bertambah pede, bertambah “besar rasa” bahwa keinginan saudara untuk lanjut mengetahui yang benar, baik dan lurus dari Allah adalah benar-benar datang dari jiwa tulus mendambakan yang haq dari sisi Allah dan RasulNya.
    Sungguh beda perlakuan Allah terhadap orang tahu dan orang yang tidak tahu:”KATAKANLAH: ADAKAH SAMA ORANG-ORANG YANG MENGETAHUI DENGAN ORANG ORANG YANG TIDAK MENGETAHUI?” SESUNGGUHNYA ORANG YANG BERAKALLAH YANG DAPAT MENERI MA PELAJARAN. (Az Zumar 9). Saksikanlah sendiri, hanya orang yang MAU memper gunakan akalnya sajalah yang dapat menerima pelajaran. Coba lihat susulan ayat diatas pada no. 11 :“KATAKANLAH; SESUNGGUHNYA AKU DIPERINTAHKAN SUPAYA MENYEMBAH ALLAH DENGAN MEMURNIKAN KETAATAN KEPADANYA DALAM MENJALANKAN AGAMA”.(Az Zumar 11).Cobalah renungkan, Allah sampai merasa perlu mengulang-ulangi hanya selang beberapa ayat saja. Begitu maha pentingnya beribadah dgn tata cara, tata tertib dan tata laksana yang telah ditetapkan oleh Allah.
    “DAN AKU DIPERINTAHKAN SUPAYA MENJADI ORANG YANG PERTAMA-TAMA BERSERAH DIRI” Az Zumar 12. (Rupanya, kemurnian dalam ketaatan itu didasari oleh penyerahan diri kepada Allah – segala sesuatunya harus berasal dan berawal dari Allah, bukan ketaatan pada para Dai, Ustadz, Kiyai atau Lebay yang akrab berkerabat dengan kekhilafan kesalahan dan keterlanjuran. Coba lihat lanjutan ayat itu pada nomor berikutnya. “KATAKANLAH; “SESUNGGUHNYA AKU TAKUT AKAN SIKSAAN HARI YANG BESAR JIKA AKU DURHAKA KEPADA TUHANKU”. (Az Zumar 13.) Renungi lagi, begitu besar kedurhakaan disisi Allah bagi yang tidak berserah diri dan beribadah sesuai fitrahnya (aturan/ajaranNya). Resiko mutlaknya adalah Naar, atau Neraka. Demi Allah, apabila para Ustadz, Kiyai Lebay memahami ayat-ayat ini secara mendalam dan meluas, tentu mereka tidak akan berani mengada-ngada atau berlebih-lebihan dalam beragama. Berkata:”Yang ini baik dan yang itu juga baik” untuk diamalkan dll. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah sebagai orang-orang yang MELANGKAHI wewenang Allah dan RasulNya. Perhatikanlah isi ayat-ayat berikut ini:”MEREKA ITU TIDAK MENDAHULUI-NYA DENGAN PERKATAAN DAN MEREKA MENGERJAKAN PERINTAH-PERINTAH ALLAH”. (Al Anbiya 27) Inilah yang saya maksudkan agar mengerjakan perintah Allah, bukan perintah para Kiyai dan Lebay itu, betapapun fantastis dan kharismatisnya si Ulama itu, bahkan walau ia berasal dari benua Atlantis sekalipun, ia tetaplah manusia biasa seperti halnya kita kita ini. Saudaraku, DISINILAH letak terbesar permaslahan ummat di negeri ini, karena mereka lebih percaya(berserah diri) kepada Kiyai Lebay ketimbang kepada Allah dan RasulNya. Hasil akhirnya ya tentu saja belepotan dengan lumpur lumpur kehinaan, bergelimang dalam atmosphere kebid’ahan dan kedhaifan beramal.
    Masing2 mereka tidak merasa bersalah, semua merasa benar sesuai fitrah manusia yang memang begitu. Bahkan Fir’an pun merasa telah berbuat baik, telah berkata benar dan berjalan di jalan yang lurus. Bayangkanlah itu – Saudara kenal watak galak si Fir’an bukan? Ini ayat/bukti dalam Al Qur’an. ”FIR’AUN BERKATA: AKU TIDAK MENGEMUKAKAN KEPADAMU MELAINKAN APA YANG AKU PANDANG BAIK, DAN AKU TIADA MENUNJUKKAN KEPADAMU SELAIN JALAN YANG BENAR”. (Al Mukminun 29). Begitulah tabiat/watak umum manusia, sama seperti kita. Namun, petiklah pelajaran penting dari ayat ini bahwa semua manusia merasa benar, baik dan lurus. Ini tantangan dakwah nomor satu didunia !! Trick, tactic atau strategy apa yang pendakwah akan pakai dalam rangka menghadapi manusia-manusia jenis ini. Bukan saja manusia diluar Islam, namun terlebih utama dalam internal Islam itu sendiri. Ini saya beritahukan kepada saudara agar kelak tidak gagu, gagap atau lemah semangat dalam menghadapi orang-orang yang sifat dan sikapnya seperti Fir’an itu! Persyaratan pertama utama dalam menghadapi mereka adalah: saudara perkuat benteng pertahanan diri dengan ayat-ayat Allah, menguasai detail ayat-ayat tersebut. Sebab ayat-ayat Allah jaminan “yaqin” dan jaminan jauh dari “ragu”. Mereka (para penganut faham tradisional) tidak akan balik menuding saudara: “Ini hadith dha’if, itu hadith maudhuk, itu hadiths tidak shahih – itu bukan dari Bukhari Muslim dll, dalam rangka membela diri dan amal-amal traditional mereka. (Sekiranya saudara memakai hadiths Rasul.)
    Bagi saya pribadi, dan Allah menyaksikan:”Semua Hadiths Rasul dapat dijadikan pegangan dalam beramal, sepanjang tidak berseberangan dengan ayat-ayat Al Qur’an”. Inilah pegangan saya, dan adalah nasehat dari Nabi sendiri untuk bersikap seperti diatas.

    Disinilah letak guna piranti akal. “HAI ORANG-ORANG BERIMAN, JANGANLAH KAMU MENDAHULUI ALLAH DAN RASULNYA DAN BERTAQWALAH KEPADA ALLAH”. Al Hujurat 1. (saya cukupkan 2(dua) ayat ini sebagai larangan nyata jangan mendahului Allah.) Para Kyai zaman Sahabat ber beda dengan para Kiyai zaman sekarang, berani beraninya menyalip Allah !!! Bahkan berani menjawab “sekenanya” ngasal dan ngawur, tampa keberanian mengaku “Tidak Tahu”: Inilah sifat si Penyampai yang amat dibenci Allah. Ya mbok kalau tidak tahu katakan saja sejujurnya tidak tahu, seperti ulama terdahulu. Hampir 60-70% para Pemimpin Masjid se DKI Jakarta yang memposisi-kan dirinya pada tradisi ketimbang misi Islami, bahkan ada diantara mereka yang berani memasukkan orang kafir seperti Obama kedalam Masjid Istiqlal, yang Imam Besarnya saya kritik sekeras-kerasnya dihadapan kaum mukminin, syukur kaum mukminin membela pandangan saya sesuai ayat larangan Al Qur’an.
    Terakhir, lagi lagi ayat yang sama dengan diatas: “KATAKANLAH; HANYA ALLAH SAJA YANG AKU SEMBAH DENGAN MEMURNIKAN KETAATAN KEPADA-NYA DALAM MENJALANKAN AGAMAKU”. (Az Zumar no.14). Cukup dengan ayat-ayat yang inginkan kemurnian dalam beribadah. (kapan kapan akan kita detilkan sampai dengan minta minta kepada kuburan dll dll.)
    Dan ayat paling akhir yang ingin saya sampaikan kepada saudara adalah: “MAKA SEMBAHLAH OLEHMU (HAI ORANG-ORANG MUSYRIK) APA YANG KAMU KEHENDAKI SELAIN DIA. KATAKANLAH: “SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG RUGI IALAH ORANG ORANG YANG MERUGIKAN DIRI MEREKA SENDIRI DAN KELUARGANYA PADA HARI KIAMAT”. INGATLAH YANG DEMIKIAN ITU ADALAH KERUGIAN YANG NYATA.( Az Zumar no. 15)
    Ini ayat menggambarkan kejengkelan besar Allah yang mengajak kepada KETAUHIDAN namun ditolak mentah-mentah tampa olah pikir terlebih dahulu oleh kaum musyrik.(atau dalam internal Islam – ya kaum tradisionalis)
    Ini menjadi pelajaran penting bagi kita, agar tidak menjadi penyesalan yang tidak akan berkesudahan di alam kubur ataupun di alam akhirat kelak. Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.
    Paling akhir, saya mengajak saudara-saudara untuk menekur dan menekuni kedua ayat dari Surat Muhammad no. 7 dan no. 14.
    “HAI ORANG ORANG YANG BERIMAN, JIKA KAMU MENOLONG AGAMA ALLAH, NISCAYA DIA AKAN MENOLONGMU DAN MENEGUHKAN KEDUDUKANMU”. (Agama Allah itu suci atau bersih dari segala kesyirikan/kemungkaran – maukah tolong membersihkannya??)
    “MAKA APAKAH ORANG YANG BERPEGANG PADA KETERANGAN YANG DATANG DARI TUHANNYA SAMA DENGAN ORANG ORANG YANG SYAITAN MENJADIKAN DIA MEMANDANG BAIK PERBUATAN NYA YANG BURUK ITU DAN MENGIKUTI HAWA NAFSUNYA?. (Muhammad 14)
    Itulah yang menjadi kesimpulan akhir bagi saudara dalam persoalan Al Qur’an dan Al Hadiths, antara “yang meyaqinkan” contra “yang meragukan”. Islam itu agama para mukminin (baca intellectuals) karenanya wajib pakai akal, yang Allah murka kalau beragama tampa memanfaatkan piranti akal anugerahNya.
    Kepada Saudara Nurdin Adam Nuh dan menyusul seorang saudara lagi yang belum berterang diri dengan keadaannya (Anonymous), telah mendapat dasar dasar yg fundamental
    Untuk bersiap siap berseberangan dengan kaum tradisionalis. Jadilah saudara berdua calon Pendakwah dengan label Orisinalis yang didukung oleh Allah dan RasulNYa.
    Persoalan yang saudara mintakan itu, suatu urusan yang besar dan panjang, oleh karena itu sebaiknya bergegas membeli sebuah buku (diantara sekian buku yang menulis tentang hal ihwal diatas). Buku yang saya sarankan adalah buku karya seorang MANTAN KIYAI NU YANG SUDAH TOBAT, SUDAH SADAR DARI KOMA KEMUSYRIKANNYA. Buku itu berjudul sbb :
    “MANTAN KIYAI NU MENGGUGAT TAHLILAN, ISTIGHOSAHAN DAN ZIARAH PARA WALI”
    Pengarangnya H. MAHRUS ALI.
    Iqra, iqra, iqra, bila ada yang kurang jelas, akan kita diskusikan bersama. Mudah mudahan Allah membantu saudara mencari kebenaran.
    Salam
    ZULKARNAIN AL IDRUS
    ciputat

    Reply
  13. Dalhar Asnawi

    Assalamu’alaikum ikhwan widdin.
    Semua masukan dari ikhwan itu, saya sangat senang, dan memang itulah diantara doa atau permohonan Rasul kepada Allah yang tidak diperkenankan yaitu persatuan (seingat saya)dimana Rasulullah menghendaki adanya persatuan diantara umatnya. Karena saya masih dangkal pengetahuannya maka saya sering mencari info2 agama yg kuat landasannya (dasarnya) dan saya hanya menghimbau kepada ikhwan fiiddin mari kita eratkan ukhuwah kita dengan kebenaran yang kuat khususnya terhadap amalan atau ibadah kepada Allah, dan sepengetahuan saya nilai hadits yg bisa dipakai dasar adalah hadits hasan (mohon koreksi bisa salah) jazakumullah khoiron katsiiron n fastabiqulkhoiror

    Reply
  14. ALI MASYKUR

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Terima kasih Pak Ustadz,suatu kalimat yang bisa dirasakan dan dinikmati isinya, dalam pencerahan oranga awam yang kurang memahami type hadits. Bisa memilah-milah hadits yang bisa digunakan untuk beribadah, menghukumi dan hadits untuk memotivasi. Jaza Kumullah Khoiron Katsiro. Amin

    Wassalam

    Reply
    1. Akhmad Tefur Post author

      Wa alaikum salam wr wb. Alhamdulillah, semoga artikel tentang puasa ini bermanfaat untuk kita semua.

      Reply
  15. Zulkarnain Al Idrus

    SAUDARA HARTONO,
    ACC 100%!. SUNGGUH UJIAN DAN COBAAN TERBESAR DAN TERBERAT SEPANJANG MASA BAGI UMMAT ISLAM ADALAH agar LEBIH MENGUTAMAKAN AL QUR’AN KETIMBANG AL HADITHS. DENGAN MENGETAHUI PERSIS PORSI DAN PROPORSINYA SEIMBANG, YANG BILA TIDAK MAKA DAKWAH ISLAMIAH AKAN TIMPANG ALIAS PINCANG. SEGALA APA SAJA YANG TIDAK SEIMBANG MENJADI TIDAK HARMONIS. SEGALA YANG TIDAK HARMONIS, TIDAK DATANG DARI ALLAH.

    INI ADALAH PELAJARAN PAHIT BAK EMPEDU MENGINGAT MASA TAURAT DAN INJIL YANG PENUH DUKA, NESTAPA DAN MALAPETAKA ITU JANGAN SAMPAI TERULANG DIZAMAN MUHAMMAD RASULULLAH DENGAN AL QUR’ANNYA. DIMASA TAURAT DAN INJIL, UMMAT TERPUSAT KONSENTRASINYA KEPADA PARA RAHIB DAN PARA PENDETA, YANG AKHIRNYA MEMBUAT MEREKA BESAR KEPALA DAN BUSUNG DADA DAN BAHKAN MENANDINGI KEKUASAAN ALLAH, SANG TUHAM SEMESTA ALAM. KAUM YAHUDI DAN NASRANI AMAT SANGAT KUAT DAN DERAS PENGARUHNYA, KHUSUSNYA BAGI UMMAT ISLAM. MEREKA CERDIK DAN LICIK DALAM MEMPENGARAHI UMMAT, WALAUPUN SEBENARNYA, MEREKA JUGA PICIK!

    ALLAH TIDAK INGIN UMMAT MUHAMMAD MENGALAMI HAL YANG SAMA, YAITU LEBIH BERKIBLAT KEPADA PARA RAHIB DAN PENDETA KETIMBANG KEPADA ALLAH.
    (LEBIH BERGANTUNG KEPADA PARA ULAMA – YANG MANUSIA BIASA SEPERTI KITA. TIDAK LEBIH MULIA MEREKA KETIMBANG KITA, KECUALI AMALNYA.)

    TELAH LAMA DALAM PERHATIAN SAYA, SEBAGIAN ISI KHUTBAH JUM’AT DLL DLL ADALAH MELULU MENGUTARAKAN DAN MENGEMUKAKAN AL HADITH KETIMBANG AL QUR’AN. AL QUR’AN 100% YAQIN – SEMUANYA DALIL ILMIAH YANG KUAT TAK TERBANTAHKAN. NAMUN SAYANG SEKALI, UMMAT KEKURANGAN BACAAN YANG DIAMANATKAN ALLAH JAUH HARI SEBELUM AL QUR’AN LENGKAP MENYELURUH.
    ATAU UMMAT KURANG GEMAR MEMBACA, ATAU KURANG MEMPERGUNAKAN AKAL SEHAT, SEHINGGA KADAR AKAL BERKURANG MENJADI TIDAK SEHAT ALIAS SAKIT. AKAL YANG SAKIT CENDERUNG SUKA IKUT IKUTAN, SUKA MENIRUNIRU TAMPA MAU LELAH BERPIKIR. MAKA, JADILAH UMMAT SEPERTI KEADAAN SEKARANG INI. UMMAT YANG SEPERTI INI GEMAR DAN NGOTOT MEMPERTAHAN KESALAHAN YANG DIPIKIRNYA KEBENARAN. KASIHAN SEKALI MEREKA.

    ITULAH SEBABNYA SAYA GEMBIRA DENGAN AJAKAN SAUDARA MENJADIKAN AL QUR’AN PEDOMAN – BAGI SIAPA YANG MAU BERTAQWA. RAHASIANYA TERLETAK PADA PENGETAHUAN DAN PEMAHAMAN KITA TENTANG SELUK BELUK AL HADITHS, dan penguasaan sejarah ummat-umat masa lampau.

    TERLALU BANYAK AYAT AYAT ALLAH MEMERINTAHKAN MENGAMBIL PELAJARAN DARI AL QUR’AN, DAN TIDAK ADA SATUPUN AJAKAN ALLAH UNTUK MENGAMBIL PELAJARAN DARI AL HADITH (SELAIN PENGAKUAN ALLAH TERHADAPNYA.) KEADAANNYA SAMA DENGAN PERINTAH ALLAH “UNTUK MENGAGUNGKAN ALLAH DENGAN SEBESAR-BESAR PENGAGUNGAN”(WALIYYU MINAZZULLI WAKABHIRHU TAKBIIRA-AL ISRAA 111).

    NAMUN YANG TERJADI SEBALIKNYA, UMMAT BERGELIMANG DALAM PENGAGUNGAN BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP MUHAMMAD RASULULLAH – BUKAN KEPADA ALLAH !
    INILAH YANG WAJIB KITA CEGAH AGAR TIDAK BERKETERUSAN, AGAR AGAMA MURNI ALLAH TIDAK TERGERUSKAN. (PERSIS SEPERTI CONTOH AGAMA NASRANI, LEBIH MENGAGUNGKAN SI SINTER KLAAS KETIMBANG YESUS SEBAGAI TUANNYA.

    SAYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH ATAS PEMAHAMAN BIJAK SAUDARA ITU!
    KIRANYA ALLAH BERKENAN MENAMBAH ILMUNYA KEPADA SAUDARA.

    SAUDARA AHMAD TEFUR, TERUS MENERUS TERIMA KASIH SAYA TERHADAP WADAH SAUDARA INI, YANG TELAH MENAMBAH PERSAUDARAAN DIANTARA UMMAT.

    SALAM
    ZULKARNAIN AL IDRUS
    ciputat

    Reply
  16. Zulkarnain Al Idrus

    TERIMA KASIH ATAS DOA KASIHNYA, KELAK ALLAH MEMBALAS KEBAIKAN HATI SRI HASTUTI.
    DOA YANG PALING DISENANGI ALLAH ADALAH DOA UNTUK MENDAPATKAN ANUGERAH KESEHATAN.
    YA ALLAH, SEHAT WAL AFIATKANLAH SAUDARIKU SRI HASTUTI BESERTA KELUARGANYA.

    Reply
  17. Syamsul Bachri S

    terima kasih saudaraku Zulkarnaen Idrus. semoga saudara diberikan kekuatan dan kesehatan untuk terus mendakwahkan ilmunya kepada umat

    Reply
  18. jefry

    Mohon maaf kepada saudara-saudaraku sesama muslim, saya yang dhoif ini ingin menimba ilmu bermudzakarah kepada saudara-saudaraku yang memiliki pengetahuan yang Allah SWT lebihkan dari sebagian yang lain.
    Saya hanya ingin bertanya apakah boleh bertawassul, dan apa keutamaan bertawasul. kemudian memurnikan ibadah hanya kepada Allah, kita semua pasti ingin sampai pada tahap tersebut tapi saya sendiri belum bisa memurnikan ibadah seperti yang saudara-saudaraku sampaikan, mohon penjelasannya bagaimana caranya. kemudian agar ibadah sholat kita bisa mencapai derajat khusyu bagaimana caranya agar tidak sia-sia ibadah yang kita lakukan selama ini.
    demikian saja dari saya, atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

    Reply
  19. offshore bank account

    Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>