Buletin Jumat : Berapa Nilai Syahadat Kita?

Buletin Jumat kali ini mengajak kita untuk mengukur diri, “Berapa nilai syahadat kita?”. Artikel tentang syahadat (syahadat tauhid dan syahadat rasul) dapat anda baca dalam blog ini, dengan judul:
1. Syahadat Kita dan Syahadat Maling, Samakah?
2. Makna Syahadat Rasul – Penting Banget!
Mengingat pentingnya pemahaman tentang syahadat, maka buletin Jumat edisi ke-4 ini mengupas makna syahadat dalam kaitannya dengan perintah shalat berjamaah di masjid.

Di akhir tulisan ini, saya sajikan link download buletin Jumat edisi-4. Silakan download dan print, kemudian fotokopi berapapun jumlahnya. Saat shalat Jumat, datanglah lebih awal dan letakkan buletin Jumat tersebut di pintu-pintu masjid. Semoga bermanfaat.

 Download Gratis 40 Buletin Jumat Dakwah Tentang Shalat Berjamaah

Buletin Dakwah GPKSB No.04

Berapa Nilai Syahadat Kita ?
Syahadat sebagai rukun Islam yang pertama memegang peranan yang sangat penting, yaitu sebagai fondasi untuk melaksanakan rukun-rukun Islam lainnya.

Pernahkah mengukur nilai syahadat diri kita?
Mari kita mencermati makna syahadat tauhid “Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah”. Tuhan bermakna sesuatu yang ditakuti, yang diharapkan atau yang dipentingkan. Dengan demikian makna syahadat dapat berarti :
– Tiada yang patut ditakuti selain Allah
– Tiada yang patut diharapkan selain Allah
– Tiada yang patut dipentingkan selain Allah

Seorang pencuri yang tengok kanan-kiri sebelum menjalankan aksinya, berarti dia lebih takut kepada manusia ketimbang takutnya kepada Allah yang Maha Melihat. Dalam kasus ini, berarti nilai syahadat sang pencuri tersebut adalah 0 (nol), karena seharusnya tiada yang patut ditakuti selain Allah, tapi ternyata dia lebih takut kepada manusia.

“Jika engkau mendengar suara adzan, maka penuhilah panggilan Allah itu” (HR Thabrani).

Jika kita mendengar adzan tapi tidak mau menghadirinya, berarti kita lebih mementingkan yang lain ketimbang panggilan Allah yang Maha Agung. Bukankah kita telah berkomitmen tiada Tuhan selain Allah, yang juga berarti tiada yang patut dipentingkan selain Allah? Mengapa ternyata kita lebih mementingkan yang lain? Jadi, berapakah nilai syahadat kita?

Mari perbaiki kualitas syahadat kita! ***

 Download Gratis 40 Buletin Jumat Dakwah Tentang Shalat Berjamaah

Klik -» Download Buletin Islam Dakwah Jumat GPKSB No.04

Contoh format Buletin Dakwah Islam (Buletin Jumat GPKSB/Pendidikan Jum’at)

Download dan print, kemudian fotokopi berapapun jumlahnya. Saat shalat Jumat, datanglah lebih awal dan letakkan buletin Jumat tersebut di pintu-pintu masjid.

Untuk input kami, jika anda suka artikel ini : Klik 'Like'
Dan jika ingin ikut berbagi ke teman : Klik t / f / M

5 thoughts on “Buletin Jumat : Berapa Nilai Syahadat Kita?

  1. Ayo.S

    Alhamdulillah…artikel ini bisa buat bimbingan kami sekelurga.Namun saya harap bukan cuma kajian fiqih/syari’at tapi sangat penting juga bimbingan aqidahnya.Untuk power kami dalam menjalankan syri’at itu.
    Terima kasih….

    Reply
  2. Ikhsan Al-Hassan

    Afwan, mau nambahin nih.. kalimat “La illaha illallah” maksudnya tiada tuhan (yang disembah) selain Allah, jika yang kita sembah hanyalah Allah maka:
    – tiada yang patut ditaati kecuali Allah
    – tiada yang patut dijadikan hukum selain hukum Allah
    – tiada yang berhak mengatur selain Allah

    Dari ‘Adiy bin Hatim dia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam dengan memakai salib emas di leherku. Beliau bersabda, “Wahai ‘Adiy, buang berhala dari lehermu itu !”. Aku pun membuangnya. Aku tiba ketika beliau sedang membaca Surah Bara’ah sampai pada ayat ‘Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah’. Aku katakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidaklah menyembah mereka !’ Beliau pun bersabda, “Bukankah mereka mengharamkan apa-apa yang Allah halalkan, kemudian kalian pun mengharamkannya. Dan mereka menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan kemudian kalian pun ikut menghalalkannya?” Saya berkata, “Benar.” Beliau bersabda, “Demikianlah (bentuk) penyembahan pada mereka!”

    Jadi, “menyembah” itu tidak mesti dengan “sujud atau shalat atau yang semisalnya”. Akan tetapi bentuk “ketaatan, kerelaan, ketundukan (yang datang dari hati)” terhadap apa-apa yang melanggar/ menentang aturan/hukum2 agama Islam itu pun termasuk “bentuk penyembahan”. Imam ath Thabariy membawakan beberapa atsar lainnya yang menegaskan pengertian tersebut di atas, di antaranya dari Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallohu ‘anhum.

    Allah Swt berfirman:
    ???? ????????? ?????? ????? ?????? ?????? ?????????? ?????? ????????

    Menetapkan hukum hanya hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia (QS Yusuf [12]: 40).

    Sebagaimana telah dipaparkan, ketetapan ini bagian inti dari tauhîd; bahwa satu-satunya Zat yang patut disembah dan diibadahi, adalah Allah Swt. Tauhîd tidak hanya memberikan pengakuan bahwa Allah Swt. sebagai satu-satunya Pencipta alam semesta dan isinya, namun juga pengakuan bahwa Allah Swt. adalah satu-satunya Zat yang berhak disembah dan ditaati.

    Karena itu, ketika ada pihak lain yang lebih ditaati melebihi Allah Swt., maka ia disebut sebagai ilâh bagi pelakunya (lihat QS al-Furqan [24]: 43-44, al-Jatsiyah [45]: 23). Al-Quran juga menyebut syurakâ’, sekutu-sekutu atau sesembahan selain-Nya yang membuat aturan bagi kehidupan. Allah Swt. berfirman:
    ???? ?????? ????????? ???????? ?????? ???? ???????? ??? ???? ???????? ???? ?????

    Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS al-Syura [42]: 21).

    Orang-orang musyik Arab, kendati mengakui bahwa Allah Swt. sebagai Pencipta, Pengatur, dan Pemilik alam raya, mereka tidak dapat dikategorikan sebagai Mukmin. Pasalnya, mereka tidak mengakui Allah Swt. sebagai satu-satunya ilâh yang patut ditaati. Ini pula yang ditegaskan dalam ayat di atas. Kaum Yahudi dan Nasrani yang mendudukkan pendeta dan rahib mereka sebagai memiliki otoritas membuat hukum, menghalalkan, dan mengharamkan segala sesuatu, dinyatakan telah melakukan penyembahan.

    Reply
  3. amir syarifuddin

    alhamdulillah, mudah2an isu-isu yang diangkat dalam rubrik ini bisa membantu kaum muslim untuk memahami arti hidup dalam dunia untuk kehidupan yang lebih baik di hari kelak

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>