Puisi Sufistik Rendra, Kado untuk Orang Sakit

Puisi sufistik kado untuk orang sakitBeberapa waktu lalu, saya mengulas puisi sufistik “Idul Fitri”, karya Sutardji Calzoem Bachri. Tahukah anda, Rendra juga ternyata telah melahirkan sebuah puisi sufistik yang luar biasa? Bagaimana saya bisa sampai pada kesimpulan tersebut?

Begini ceritanya:
Salah seorang guru saya yang di Tegal sakit cukup berat. Sudah beberapa bulan beliau cuti mengajar. Badannya makin kurus, nafasnya sering sesak. Tapi beliau tetap tegar dalam menjalani keadaan ini. Semoga Allah berkenan segera memberikan kesembuhan baginya.

Tahun 80an, saya sering mendengar guru tersebut membacakan sajak-sajak. Antara lain yang berjudul “Aku” karya Chairil Anwar, “Padamu Jua” karya Amir Hamzah, “Burung” karya sang guru sendiri dan sajaknya Rendra. Karena itulah saya jadi ketularan sang guru, saya hafal keempat sajak tersebut di luar kepala.

Sebelum saya ke Tegal untuk menjenguknya, saya membaca ulang buku “Kado untuk Orang Sakit” karya Abdullah bin Ali yang saya beli 8 tahun silam. Kebiasaan saya setiap membeli buku, saya menulis tanggal saat saya membelinya. Saya ingin menyampaikan sebagian isinya, khususnya yang dapat memberikan semangat untuk guru saya. Sesampai di Tegal, kami pun larut dalam pembicaraan. Hingga sampailah pada saat yang tepat untuk menyampaikan isi buku “Kado untuk Orang Sakit” itu. Antara lain yang saya sampaikan adalah:

1. Kabar gembira bagi orang sakit
Orang yang sakit mendapat kabar gembira dari Allah, sebagaimna firman-Nya, “Wabasyiri shobirin”, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Ayat tersebut selengkapnya adalah:
“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang menghadapinya dengan sabar. Yaitu orang-orang yang apabila mendapat musibah mereka mengucapkan (meyakini) bahwa kami semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat kesejahteraan dan rahmat dari Allah”  (QS Al Baqarah 155-157).

2. Sakit bukanlah keburukan, tapi sebuah kebaikan
“Sangat menakjubkan urusan orang-orang mukmin itu. Mereka menerima semua persoalan hidup sebagai kebaikan baginya. Apabila kegembiraan yang diterimanya ia bersyukur dan itu adalah kebaikan baginya. Dan apabila kepedihan yang diterimanya maka ia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya” (HR Muslim).

3. Bahkan, orang sakit adalah orang yang beruntung
Selain mendapat kabar gembira seperti di atas, orang sakit juga diuntungkan karena terhapus dosanya. “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya” (HR Bukhari). Inilah hikmah di balik musibah.

4. Tetap bergembira dalam cobaan dan kesenangan
“Dan sesungguhnya ada di antara mereka yang sangat bergembira karena mendapat cobaan, sebagaimana ada di antara mereka yang bergembira karena mendapat kesenangan” (HR Ibnu Majah dan Al Hakim).

Saat saya menyampaikan poin ini, saya teringat sebuah sajak Rendra, sajak kesukaan guru. Kemudian saya membacakan penggalan sajak tersebut: “Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa”.

Sang guru pun melengkapinya:

Kemarin dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar langit di badan bersatu dalam jiwa

Subhanallah…, peristiwa 30an tahun lalu terulang kembali: guru membaca puisi itu, dan saya mendengarkannya.

Akhirnya, pembicaraan kami pun mengalir ke bait-bait puisi itu. Benar, seorang mukmin semestinya harus mampu menganggap bencana dan keberuntungan itu sama saja! Saat itu saya baru menyadari, bahwa puisi yang saya dengar beberapa puluh tahun lalu dari guru saya yang sedang sakit itu, ternyata adalah puisi sufistik luar biasa. Puisi bermuatan mutiara hikmah. Puisi kado untuk orang sakit. Semoga guru cepat sembuh.

Pembaca, mungkin di antara sahabat anda saat ini ada yang sedang sakit, sedih, kesulitan atau dilanda bencana lainnya. Share artikel ini untuk memberi semangat mereka, bahwa:

  • Sakit dan sehat sama saja
  • Sedih dan gembira sama saja
  • Kesulitan dan kemudahan sama saja
  • Bencana dan keberuntungan sama saja

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi  kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah 216).

SILAKAN SHARE...
  •  
  •  
  • 328
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    328
    Shares
  • 328
    Shares


public speaking

15 Replies to “Puisi Sufistik Rendra, Kado untuk Orang Sakit”

  1. Assalamu’alaikum wrwb,..syukron pak ustazd,aartikiel yg sngat menarik khusus’y bt dea yg lg sakit batuk2 udah 2 minggu lum sembuh,..jd tmbh bersyukur nich dg sakit’y,..

  2. Sebuah kontekstualisasi yang bagus. 🙂

  3. Saya setuju dengan komentarnya M. Sulaiman (Mas Leman?) di atas. Yang sakit itu (dulu) beliaukah?

  4. Saya tidak panjang lebar mengkomentari artikel kado orang sakit ini, saya hanya bisa bilang, hikmah di balik musibah sungguh sangat luar biasa.

  5. Memang puisi sufistik rendra itu cocok sebagai kado orang sakit, sungguh sangat memotivasi. Terima kasih sudah berbagi.

  6. Hikmah di balik musibah, mengajarkan kita untuk tetap bersabar dan bersyukur, karena kado orang sakit itu sungguh luar biasa.

  7. Wa alaikum salam wrwb. Semoga lekas sembuh.

  8. semua itu hanya tuhan yang tau? bukan selamanya kita akan sakit, sakit adalah cobaan buat diri kita.

  9. saya sedang sakit saat membaca puisi2 indah itu,…begitu bermanfaat untuk menyemangatiku.terima kasih dan terima kasih

  10. Semoga lekas diberi kesembuhan oleh Sang Maha Penyembuh

Leave a Reply

Your email address will not be published.